03 September 2026 - Oleh

Kategori :

Career Expo UNWIRA Buka Beragam Peluang bagi Mahasiswa Menjelang Lulus


UNWIRA -- UNWIRA Career Expo kembali digelar pada Kamis (3/9/2026) di Aula St. Hendrikus, Gedung Rektorat UNWIRA. Mengusung tema “Unlocking Opportunities, Shaping Your Future”, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dan calon lulusan dengan 38 mitra dari berbagai bidang.

Peluang yang diperkenalkan tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga beasiswa, pendidikan, pelatihan, pengembangan kompetensi, hingga jejaring profesional. Sejumlah mitra yang hadir antara lain Bank NTT, Pegadaian, Jasa Raharja Putera, Bursa Efek Indonesia (IDX), PKSS, Alana Kaye, Fulbright Indonesia, Perempuan Inovasi, Nuka Bicara, La Tulipe, Aston, dan sejumlah mitra lainnya.

Wakil Rektor III UNWIRA, Dr. Yohanis Nurak Siwa, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa Career Expo merupakan salah satu bentuk perhatian universitas dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Menurutnya, perjalanan mahasiswa setelah lulus tidak hanya terbatas pada mencari pekerjaan. Lulusan dapat memilih menjadi profesional, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau menciptakan peluang bagi orang lain.

Oleh karena itu, keberadaan berbagai mitra dalam Career Expo diharapkan dapat memberikan akses sekaligus gambaran yang lebih luas mengenai pilihan yang dapat dimanfaatkan mahasiswa.

"Kuncinya adalah teman-teman mau memanfaatkan kesempatan yang ada atau tidak," ungkap Yohanis.

Ia menjelaskan, Career Expo UNWIRA dilaksanakan dua kali dalam setahun sebagai bagian dari upaya universitas untuk memberikan perhatian terhadap mahasiswa hingga memasuki fase setelah kelulusan. Tahun ini, kegiatan tersebut juga memperluas keterlibatan mitra dari luar Kota Kupang.

Urgensi mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa setelah lulus turut tergambar dari data tracer study lulusan 2025 yang dipaparkan dalam Career Expo.

Baca Juga: Career Expo 2026 Tahap II Hadirkan 38 Mitra Eksternal, Perluas Pilihan Karier Mahasiswa UNWIRA

Dari lebih dari 1.000 lulusan pada 2025, sekitar 43 persen telah mengisi tracer study. Dari data lulusan yang masuk, sekitar 30–34 persen tercatat telah bekerja, sekitar 3 persen menjadi wirausahawan, dan sekitar 7 persen melanjutkan pendidikan, termasuk ke jenjang magister. Sementara itu, sekitar 58 persen masih mencari pekerjaan.

Data tersebut menjadi gambaran bahwa masa transisi dari perguruan tinggi menuju dunia profesional membutuhkan persiapan. Mahasiswa perlu mengenali berbagai pilihan sekaligus membangun kapasitas diri sebelum meninggalkan bangku kuliah.

"Kita sedang melakukan proses tadi melalui kerja sama institusi dan teman-teman mitra," terangnya.

Melalui Career Expo, mahasiswa tidak hanya dipertemukan dengan perusahaan sebagai calon pemberi kerja, tetapi juga dengan lembaga yang dapat membantu mereka mengembangkan kompetensi dan mengejar peluang pendidikan.

Salah satu mitra yang menyoroti pentingnya pengembangan diri adalah PT Nuka Bicara Akademi. Untuk pertama kalinya hadir dalam Career Expo UNWIRA, Nuka Bicara memperkenalkan berbagai program pengembangan kemampuan komunikasi dan pendampingan bagi mahasiswa.

"Untuk pertama kalinya, Nuka Bicara hadir di Career Expo. Nuka Bicara menawarkan pelatihan public speaking dan penulisan, serta mendampingi pendaftaran beasiswa hingga selesai, pendampingan untuk menjadi duta dan MC, dan banyak lagi," jelas Eggy, Direktur PT Nuka Bicara Akademi.

Menurutnya, pengembangan diri tidak berhenti pada pelatihan satu kali. Mahasiswa perlu memiliki ruang untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan yang dapat mendukung mereka dalam berbagai kesempatan.

Kesiapan yang sama diperlukan ketika mahasiswa memilih jalur pendidikan lanjutan. Dalam Career Expo, Komunitas Alumni Australia (KOALA) NTT turut memperkenalkan informasi mengenai Australia Awards Scholarship (AAS) sekaligus berbagi gambaran mengenai persiapan yang perlu dilakukan calon pendaftar.

Yoanna, salah seorang alumnus, menjelaskan bahwa AAS menyediakan beberapa pilihan program, mulai dari program jangka panjang untuk jenjang master dan Ph.D, program jangka pendek, hingga program yang memungkinkan penerima menjalani pendidikan di Indonesia dan Australia.

Menurut Yoanna, kesempatan memperoleh beasiswa tidak cukup dikejar hanya dengan keinginan. Calon pendaftar perlu mempersiapkan aspek akademik maupun nonakademik sejak jauh hari.

Dari sisi akademik, mahasiswa perlu memperhatikan persyaratan IPK, membangun CV, serta meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Sementara, hal penting dari sisi nonakademik adalah kontribusi yang ingin diberikan setelah menyelesaikan pendidikan.

Ia menjelaskan bahwa calon penerima perlu mampu menunjukkan bagaimana pendidikan yang diperoleh nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. 

"Bagaimana kita bisa melihat kontribusi kita secara tidak langsung pada hubungan dua negara ini," lanjut Yoanna.

Ia menyoroti kehadiran berbagai mitra dalam Career Expo, yang memperlihatkan bahwa pilihan setelah lulus memiliki banyak jalur. Ada mahasiswa yang dapat memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengembangkan keterampilan, maupun memperluas jejaring profesional. Namun, setiap peluang membawa tuntutan kesiapan yang berbeda. 

Peluang kerja membutuhkan kompetensi dan kemampuan memperkenalkan diri. Beasiswa menuntut rekam jejak akademik dan nonakademik. Sementara pengembangan karier membutuhkan kemampuan komunikasi, pengalaman, jejaring, serta kemauan untuk terus belajar.

Mahasiswa juga diingatkan untuk berani memperkenalkan diri, bertanya kepada mitra, dan tidak menganggap kegagalan mendapatkan pekerjaan pada satu kesempatan sebagai akhir dari perjalanan.

"Jangan takut untuk memperkenalkan diri, jangan ragu untuk bertanya, dan jangan merasa gagal apabila hari ini belum menemukan pekerjaan impian," pesannya.

Dengan menghadirkan 39 mitra dari berbagai sektor, Career Expo menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat lebih banyak kemungkinan sekaligus memahami bekal yang perlu mereka bangun sejak sekarang.

Pada akhirnya, Career Expo bukan hanya tentang menemukan peluang, tetapi tentang memastikan mahasiswa telah menyiapkan diri ketika peluang itu datang. Bagi UNWIRA, upaya tersebut menjadi bagian dari pembekalan agar mahasiswa tidak hanya membawa ijazah ketika meninggalkan kampus, tetapi juga kompetensi, pengalaman, jaringan, informasi, dan keberanian untuk menentukan langkah berikutnya. (mm/ys/ms)