23 June 2022 - Oleh Kantor Kerja Sama Unwira

Kategori : Penelitian&Pengabdian Pada Masyarakat

Symposium Internasional SVD di Unwira Kupang, Beri Pandangan Misi Kristen Tentang Tantangan Dunia Saat Ini


UNWIRA, KUPANG– Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Symposium Internasional SVD Asia Pacific Zone (ASPAC) Missiological Education and Research (MER).

Symposium Internasional ternyata berlaku 5 tahun sekali jadi untuk Indonesia memperoleh kesempataan saat ini diselengarakan di Provinsi NTT, tepatnya di Unwira Kupang 

Hadir pada saat itu, dari Unwira Kupang-NTT   (Pater Dr.Philipus Tule, SVD), Director of Institute of Indian Culture (Prof Dr.sebasian M.Michael,SVD), General Mission Secretari Rome (Dr. Stanis  T. Lasar, SVD), Coordinator of ASPAC & Direktori of Sanskriti Nei Of Cultural Research Guwahati, India ( Dr. Jose K.Jacob, SVD).

Prof Dr.Sebasian M.Michael,SVD melantunkan rasa syukur  semoga kalian semua baik-baik saja dengan kasih karunia Tuhan.

“Kami bersyukur kepada Tuhan karena menjaga kami semua baik-baik saja di masa Covid ini meskipun banyak tantangan.”

Dari Unwira Pater Dr.Philipus Tule, SVD mengatakan Pada  Catatan Konsep dari ASPAC MER conference kami, yang berlangsung di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Provinsi NTT- Indonesia pada hari Rabu,22/06/2022 ini.

Baca juga : Unwira Kupang Jadi Tuan Rumah ASPAC MER Internasional Symposium

Diri-Nya Memberi pandangan tentang tantangan Misi Kristen di dunia terkait dengan beberapa karakteristik dunia saat ini.

Sebab banyak pemikir hari ini mulai Antropolog terkemuka, Sosiolog dan lain-lain, telah menggambarkan situasi kontemporer sebagai dunia yang mengglobal, postmodem dan post-truth.

“Pergerakan dunia secara bertahap dari tradisi, modernitas dan post modernitas telah lama dan rumit,” ungkap Dr.Philipus Tule, SVD.

Pada abad ke-16 situasi di Eropa berubah secara radikal. Kekaisaran Romawi menjadi hancur, sebaliknya, berbagai bangsa muncul dan mereka menegaskan otoritas, identitas, dan otonomi mereka.

Semangat Nasionalisme di berbagai negara Eropa, diikuti oleh gerakan Reformasi dan perpecahan berikutnya dalam agama Kristen memicu mutasi sosial dan budaya yang cepat.

Apa yang disebut gerakan pencerahan di Eropa pada abad 17 dan 18 dapat dikatakan sebagai faktor sejarah utama bagi gejolak intelektual, sosial, politik, budaya dan agama untuk zaman, budaya, dan peradaban baru.

Dari Tuhan, Wahyu , kebenaran mutlak, gereja dan ajarannya, bahwa ada berbagai jenis dan bentuk pengetahuan, ilmiah, estetika, agama, politik, sejarah, mitis, teologis, dan filosofis dengan logika yang berbeda.

Baca juga : di porosnttnews.com Symposium Internasional SVD di Unwira Kupang, Beri Pandangan Misi Kristen Tentang Tantangan Dunia Saat Ini

“Kita hidup di dunia yang pluralistik, terfragmentasi dan ambigu, di mana kontradiksi tidak dapat dihindari.”

Dengan menegaskan pluralitas dan lainnya, para postmodernis ingin menegaskan identitas dan pentingnya orang-orang kecil, kelompok terabaikan dan tradisi mereka yang terpinggirkan.

Sikap dan pendekatan Kristen terhadap Post-modernitas beragam, kompleks, ambigu dan membingungkan.

Secara alami pendekatan teologis terhadap Postmodernitas beragam dan bahkan kontradiktif. Kesalahan yang mungkin kita buat adalah bahwa kita bekerja dengan paradigma modernitas yang ketinggalan zaman dengan supremasi rasionalitas dan kekuatan absolut subjek manusia.

Jadi dalam diskusi kita hari ini, tentang misi dan dalam pendekatan kita terhadap agama dan budaya lain, kita harus kritis terhadap pranggapan kita.

Sebab gerakan budaya postmodern adalah proses yang berkelanjutan dalam masyarakat disemua bidang kehidupan manusia, dan komunitas iman Kristen tidak dapat mengabaikannya, tetapi harus berpartisipasi di dalamnya dan berkontribusi dengan cara yang kreatif.

Demikian Pater Dr. Philipus Tule, SVD mengakhiri kalimatnya bahwa pada kegiatan ini diikuti oleh 50-an peserta baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang dikemas secara offline dan online.


 

-- Kantor Kerja Sama UNWIRA --