27 June 2022 - Oleh Kantor Kerja Sama Unwira

Kategori : Kegiatan Mahasiswa

Malam puncak Festival Budaya, Lahirkan Banyak Jawara


UNWIRA, KUPANG - Jauh sebelum malam festival budaya, Senat Mahasiswa Fakultas Filsafat bersama rekan-rekannya mengadakan beberapa mata lomba dalam memeriahkan festival ini. Semua mahasiswa dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat mereka dalam setiap mata lomba.

Di malam puncak, banyak mata acara yang ditampilkan baik dari para mahasiswa UNWIRA sendiri maupun dari kelompok menari dari luar universitas. Selain para pembawa mata acara dari luar yang menampilkan tarian daerah NTT dengan pakaian yang khas.

 

Pada kesempatan ini, hadir pula para finalis Duta Bahasa NTT 2022 yang mempromosikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta upaya pelestarian bahasa daerah dan juga penguasaan bahasa asing.

“Menurut Saya, Festival budaya semalam, (Minggu 26 Juni 2022)sangat menarik, karena pentas seni yang di tampilkan memiliki konsep yg menarik sehingga penonton selalu dibuat penasaran akan penampilan peserta selanjutnya. Stand-stand yang ada juga cukup kreatif. Tetapi kekurangannya adalah kurang tepat waktu, serta sound yg kurang terdengar ketika berada di atas panggung” tutur Renya Rosari Maria Kabu Mau yang biasa disapa Renya, salah satu finalis Duta Bahasa NTT 2022

Banyak mata acara yang ditampilkan dan pada kesempatan itu hadir pula para misionaris Serikat Sabda Allah Asia. Mereka cukup menikmati setiap sajian acara yang berlatar belakang budaya NTT yang kaya. Dekan Fakultas Filsafat UNWIRA Rm. Yohanes Subani, Pr terlihat antusias didampingi juga oleh Wakil Dekan, Rm Theodorus Aloysius Silab, Pr. Mereka menyaksikan acara ini hingga selesai guna menjaga ketertiban para mahasiswa yang masih bergoyang.

“Acaranya bagus, menginspirasi kaum muda untuk hidup dalam multikultur, kebinekaan, saling merbaur tnpa kehilangan identitas, ajang pengembang cipta karsa, kreasi kaum muda, latihan kepemimpinan, mempersatukan kaum muda” tutur Romo John via WhatsApp

Banyak apresiasi yang diberikan oleh para mahasiswa yang hadir. Sebagai kegiatan seperti ini sangat membantu mereka untuk tampil berani di muka umum dalam hal berkreasi dan ini menjadi modal untuk masa depan mereka di tengah masyarakat.

“Pendapat saya berkaitan dengan acara yang di adakan oleh fakultas filsafat dari hari Sabtu kemarin sangat di apresiasi karena dengan adanya kompetisi serta kegiatan seperti itu sebenarnya sangat mendukung anak mudah sekarang untuk terus berkreasi dan istimewanya adalah setiap fakultas harus berkreasi dengan budaya dan imajinatif yang ada di dalam setiap program studi yang ada” tandas Yuliana wahyudina Riski Agu Mahasiswi Semester IV Prodi Bimbingan Konseling.

Di penghujung festival, para panitia membacakan hasil lomba serta para pemenang lomba tersebut dengan penghargaan berupa piagam dan uang tunai. Festival ini menjadi ajang untuk saling mengenal budaya dan menerimanya sebagai kekayaan daerah bagi Nusa dan bangsa.

Ada pun beberapa mata lomba yang diselenggarakan akan adalah sebagai berikut dengan para juara:

Pidato Bahasa Inggris

  1. Adolfo Martins De Deus (Fakultas Filsafat)
  2. Jelia de Carvalho Belo (Prodi Bahasa Inggris)
  3. Sebastianus J. Harjoni (Fakultas Filsafat)

Esai

  1. Wilhelmus Ninu Runesi
  2.  Apryanto Rey Fernando Asuri
  3. Patrisius Tabana

Monolog:

  1. Mario Venerial Zerri
  2. Rikardus Bolaer
  3. Remigius Taek

Film Pendek:

  1. Mahasiswa Ilmu komunikasi dengan judul film “Bhineka Tunggal Ika”
  2. Para Frater Filosofan Claretian dengan judul film “Menatap Masa Depan”

Stand Up Comedy

  1. David Saputra Maria Duan
  2. Antonius Ronaldo Hane
  3. Novenalis Emandus Tes

Musikalisasi Puisi:

  1. Satu Tungku
  2. Luka Tubuh Bhineka
  3. Negeri Indah Permai

Untuk lomba stand :
Dijuarai oleh Tingkat III Filsafat yang bekerja sama dengan Para Misionaris Claretian.

Kegiatan ini ditutup dengan goyang bersama hingga pukul 00:00 dengan penjagaan dari Aparat penjaga keamanan sehingga malam puncak festival tidak terjadi keributan dan tindak anarkis para hadirin yang ada pada mahasiswa aktif (*).