17 July 2023 - Oleh Kantor Kerjasama

Kategori : Kegiatan Pimpinan PT

Pelatihan di BPSDMD NTT, Rektor UNWIRA Beri Ceramah Kepemimpinan Pancasilais dan Berintegritas


UNWIRA - Rektor Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Pater Dr. Philipus Tule, SVD., memberi ceramah bertajuk “Pemimpin Berwawasan Kebangsaan, Agama dan Budaya: Inspirasi bagi Kepemimpinan Pancasilais dan Berintegritas” pada momen Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan XI Badan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi NTT, Senin (17/07/23). Pelatihan yang melibatkan perwakilan setiap unsur pemerintah kabupaten/kota dan instansi vertikal Se-Nusa Tenggara Timur ini dilaksanakan di Hotel Pelangi Kupang.

Baca Juga: Mahasiswa/i UNWIRA Ikut Pembekalan KKNT-PPM

Dalam ceramahnya, Pater Dr. Philipus Tule, SVD., menegaskan, wawasan kebangsaan dan nasionalisme serta rasa cinta tanah air sangat penting di tengah aneka tantangan seperti globalisasi, radikalisme agama dan etnosentrisme.

“Kita berusaha memotivasi diri sebagai pemimpin, dan segenap rakyat dan umat beragama di Indonesia agar senantiasa memperkokoh persatuan dan kesatuan,” tegasnya. Indonesia, lanjutnya, harus terus harmonis, tidak mudah dikoyak-koyak, meski dibenturkan satu sama lain oleh berbagai hoaks pemecah belah.

Baca Juga: Rektor UNWIRA Kupang Lepas Peserta KKNT-PPM

Ahli Islamogi  dan alumnus  LEMHANNAS  SUSCADOSWIR Angkatan XXXI, Tahun 1990 ini juga mengatakan bahwa fakta kemajemukan suku, agama, ras dan golongan serta budaya mesti menjadi modal sosial dan spiritual, dan bukan sebagai kendala belaka. Hal ini, lanjutnya, dikarenakan dua alasan: Pertama, karena jasa para founding fathers yang telah mempersatukan aneka suku, ras dan agama menjadi satu Indonesia dan Kedua, karena kodrat pemberian dari Allah.

“Karena Allah Yang Maha kuasa telah menciptakan kita laki-laki dan perempuan, menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kita saling mengenal, sebagaimana ditandaskan QuranYa ayyuha al-Nas. Innana khalaqnakum dakarin wa untha wa ja’alnakum shu’uban wa qaba’ila li-taarafu”, ungkap penulis buku "Mengenal dan Mencintai Muslim" yang terbit pada 2004 silam itu.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UNWIRA Kupang menegaskan pentingnya semangat awal yang dimulai oleh proklamator Ir. Soekarno yang menjadi inspirasi kepemimpinan berbasis nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, persatuan dan kesatuan Indonesia kian ditantang dewasa ini.

“Menyongsong HUT RI yang ke-78 pada 17 Agustus 2023 dan menyongsong Indonesia Emas pada 2045 ini, berbagai kekuatan eksternal senantiasa mencoba atau menguji iman dan nasionalisme kita dan kelanggengan NKRI dan Pancasila dengan ideologi lain yang telah kedaluarsa, radikal dan intoleran,” tegasnya.

Karena itu, lanjutnya, tugas panggilan kita setiap pemimpin di NTT ialah membangun bangsa dan masyarakat yang nasionalis, pancasilais, moderat dan berintegritas, religius dan berbudaya. 

Baca Juga: Dalam FKP Rancangan Awal RPJPN 2025- 2045 bersama Bappenas di Mataram - NTB, Rektor UNWIRA Kupang Bahas 7 (Tujuh) Kiat Menangkal Radikalisme Agama

“Bagaimana caranya? Tak lain dengan menghayati nilai-nilai agama dan budaya serta kebangsaan kita yang tak bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. Kita dengan ideologi nasionalisme, agama-agama dan kebudayaan harus menjadi terang dan rahmat bagi alam semesta; kita harus menjadi saudara bagi semua,” tegasnya.

Merujuk ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus yang terbit pada 4 Oktober 2020, Rektor UNWIRA Kupang juga mendorong persaudaraan dan persahabatan sosial sejati.

“Melalui Ensiklik ini Paus Fransiskus mengajak kita untuk merefleksikan tentang awan-awan gelap yang meliputi dunia termasuk kita Indonesia. Di samping wabah musibah, telah banyak terjadi penyimpangan di zaman ini; manipulasi dan deformasi konsep-konsep demokrasi, kebebasan dan keadilan; memudar dan hilangnya makna komunitas sosial, muncul egoisme dan ketakpedulian terhadap bonum commune,” katanya. Logika pasar, lanjutnya, adalah juga faktor terjadinya rasisme, kemiskinan, ketidakadilan dan perdagangan manusia, karena orang memburu keuntungan sebanyak-banyaknya.

(Penulis: Paul Ama Tukan)