31 August 2023 - Oleh Administrator

Kategori : Penelitian & Pengabdian pada Masyarakat

Gandeng Dua Universitas dan Perusahaan Farmasi, Dosen UNWIRA Kembangkan Obat Herbal Terstandar (OHT) Antimalaria


Dua dosen Fakultas MIPA Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), Dr. Maximus M. Taek, M.Si. dan Paulus R. F. Lalong, M.T.P.  berkolaborasi dengan beberapa dosen dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki)-Malang dan Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata-Kediri untuk mengembangkan Obat Herbal Terstandar (OHT) antimalaria dari bahan alam. Kolaborasi ini terwujud melalui penelitian berjudul “Pengembangan Prototipe OHT Antimalaria dari Ekstrak Pule Hitam (Alstonia spectabilis) sebagai Bentuk Penguatan Kemandirian Kesehatan Masyarakat NTT.”

Baca Juga: Hadiri ASEACCU ke-29, UNWIRA Promosikan Misi Bersama Perguruan Tinggi Katolik Wilayah Asia Tenggara dan Timur

Penelitian ini merupakan satu di antara 142 judul penelitian dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang lolos seleksi Program Bantuan Luaran Prototipe 2023 yang dilaksanakan oleh Kemdikbudristek RI. Tim pelaksana penelitian ini -selain kedua dosen UNWIRA tersebut di atas- adalah: Dr. apt. Burhan Ma’arif Z.A, M.Farm., apt. Novia Maulina, M.Farm. (Prodi Farmasi FKIK UIN Maliki), Dr. Zainabur Rahmah, M.Si. (Prodi Pendidikan Dokter FKIK UIN Maliki), dan Faisal Akhmal Muslikh, M.Farm. (Prodi Farmasi IIK Bhakti Wiyata). Penelitian ini juga melibatkan perusahaan farmasi PT.  Agaricus Sido Makmur Sentosa (Asimas)-Malang sebagai mitra yang akan memproduksi prototipe OHT tersebut. Selain para dosen dan mitra industri, penelitian ini juga menyertakan dua orang mahasiswa FMIPA UNWIRA, Selty Amsikan (Prodi Biologi) dan Giovanni Teku (Prodi Kimia).

Penelitian untuk pengembangan OHT antimalaria ini bermula dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Maximus M. Taek tentang tumbuhan yang digunakan masyarakat asli di Kabupaten Belu dan Malaka (NTT) sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan penyakit malaria. Dari penelitian itu diketahui bahwa setidaknya ada 12 tumbuhan yang paling sering digunakan masyarakat sebagai obat tradisional antimalaria. Di antaranya adalah kayu ular (Strychnos ligustrina), pule (Alstonia scholaris), pule hitam (Alstonia spectabilis), bobokan (Cleome rutidosperma), ciplukan (Physalis angulata), dan biduri (Calotropis gigantea). Hasil penelitian itu kemudian dilanjutkan dengan pengujian laboratorium, dan didapatkan bahwa tumbuhan Alstonia spectabilis memiliki aktivitas antimalaria yang tinggi, dengan demikian berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu obat alternatif untuk pengobatan penyakit malaria.

Baca Juga: Prof. Denise Spitzer Gandeng KABAR BUMI Adakan Diskusi Publik dan Diseminasi Hasil Riset Remitansi di UNWIRA

Kegiatan penelitian ini secara formal telah dimulai sejak penandatanganan kontrak penelitian dengan Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikbud RI di Jakarta pada 21 Agustus 2023, bertempat di Hotel Century Park, Pintu Satu Senayan, Jakarta. Penandatanganan kontrak ini langsung dilakukan oleh Dr. Maximus M. Taek sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNWIRA, sekaligus sebagai ketua tim peneliti yang memenangkan program bantuan prototipe ini.

(Suasana penandatanganan kontrak Program Bantuan Luaran Prototipe 2023 di Hotel Century Park Jakarta)

Menindaklanjuti kontrak tersebut, atas undangan ketua tim, tiga orang anggota tim peneliti dari UIN Maliki dan IIK Bhakti Wiyata – Dr. Burhan Ma’arif, apt. Novia, M.Farm. dan Faisal, M.Farm.-  telah melakukan kunjungan lapangan ke Kupang pada 25-27 Agustus 2023. Kunjungan ini dimaksudkan untuk bersama-sama dengan ketua tim dan anggota peneliti yang berasal dari UNWIRA melakukan survei populasi tumbuhan pule hitam di wilayah sekitar Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, sekaligus mengambil bahan baku OHT berupa kulit kayu tumbuhan tersebut, dan juga mengumpulkan beberapa data dasar yang terkait dengan kebutuhan penelitian ini.

(Survei tumbuhan dan pengambilan bahan baku kulit kayu pule hitam di Bolok, Kupang)

Baca Juga: UNWIRA Luncurkan Versi Baru SIMLITABMASWIRA dalam Upaya Percepatan Capaian Rencana Strategis Publikasi Penelitian

Kegiatan penyiapan bahan baku yang meliputi pengeringan dan penggilingan kulit kayu pule hitam dan ekstraksi dilakukan di Laboratorum Kimia UNWIRA, sedangkan proses selanjutnya yakni pembuatan OHT dalam bentuk tablet akan dilakukan di PT. Asimas-Malang, dan pengujian sifat fisika dan kimia OHT serta aktivitas antimalarianya akan dilakukan di UIN Maliki-Malang, Universitas Brawijaya-Malang dan Universitas Airlangga-Surabaya.

(Proses pengeringan dan pembuatan serbuk bahan baku kulit kayu pule hitam)

Dalam kunjungan lapangan ke Kupang ini, anggota tim peneliti dari Malang dan Kediri menyempatkan diri berdiskusi dan membagi pengalaman penelitian dan publikasi ilmiah dengan pejabat LPPM dan beberapa orang dosen UNWIRA. Diskusi berlangsung menarik, karena salah satu anggota peneliti, Dr. Burhan Ma’arif, memiliki banyak pengalaman untuk dibagikan berkaitan dengan tips dan trik menulis proposal hibah-hibah penelitian kompetitif nasional, dan publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi. Diskusi informal ini ditutup dengan dorongan dan harapan Kepala LPPM UNWIRA kepada para dosen UNWIRA untuk terus mencoba menulis dan mengajukan proposal-proposal kompetitif nasional sehingga pada tahun-tahun berikut akan makin banyak proposal dari dosen-dosen UNWIRA yang lolos pendanaan hibah-hibah yang ditawarkan oleh Kemdikbudristek dan lembaga-lembaga lain misalnya BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Kepala LPPM UNWIRA juga berharap para dosen mulai mengarahkan penelitiannya untuk menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan masyarakat dan dapat dikomersialisasikan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tim peneliti prototipe OHT ini, dan tidak hanya berhenti pada menghasilkan artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal.

(Tim peneliti bersama pejabat LPPM dan dosen-dosen UNWIRA di Gedung Rektorat UNWIRA, Kupang)

(Penulis: Dr. Maximus M. Taek, M.Si)