17 November 2025 - Oleh
Kategori :
Kuliah Umum Prodi BK Bahas Masa Depan Profesi Konselor di Era Digital

UNWIRA - Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruaan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Katolik Widya Mandira melangsungkan kuliah umum dengan tema “Masa Depan Profesi Konselor: Literasi Digital, Inovasi, dan Humanisasi Layanan” Senin (17/11/25), bertempat di Aula St. Hendrikus, Gedung Rektorat UNWIRA.
Kuliah Umum ini menghadirkan Rizki Erdiantoro, M.Pd., Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Yogyakarta sekaligus Pendiri Rubikon (Ruang Bimbingan Konseling), sebagai narasumber utama.
Gracianus Edwin Tue P. Lejap, S.Pd., M.P.d., Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling UNWIRA, dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan menuntut konselor untuk tidak hanya memahami persoalan psikologis, tetapi juga perlu menguasai literasi digital. Digitalisasi, menurutnya, menjadi elemen penting dalam layanan konseling dengan tetap menjaga nilai humanisasi.
Baca Juga: Layanan Karier UNWIRA: Peran Influencer dalam Ekonomi Digital
Lebih lanjut, Gracianus Edwin menyatakan “Konselor dituntut untuk memberikan layanan yang humanis, sehingga proses digitalisasi tetap relevan dan komprehensif,” tambahnya.
Sementara itu, Rizki Erdiantoro menekankan bahwa yang terkuat bukan yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa BK untuk tidak membatasi diri belajar di kampus, tetapi belajar dari berbagai sumber.
“Belajar bukan hanya di kampus, tetapi juga di kos dan juga mampu mengolah semua informasi yang terbaru. Inovasi juga tidak harus digital apalagi di daerah yang tidak mendukung akan akses dan lain-lain,” jelasnya.

Rizki Erdiantoro juga memperkenalkan modul berjudul Tantangan 7 Hari Kenali Diri Sendiri hasil karyanya bersama tim. Ia menjelaskan bahwa pemilihan sampul buku, warna, dan ukuran huruf menggunakan pendekatan psikologis yang membuat orang tertarik untuk membaca. Ia menilai penting bagi para calon konselor untuk menghasilkan media pembelajaran yang relevan di era digital.
Waty, mahasiswa semester 5, mengaku memperoleh wawasan baru dari kegiatan ini.
“Setelah ikut kuliah umum ini, pandangan saya tentang masa depan profesi konselor memang agak berubah. Saya jadi lebih siap karena saya sekarang tahu apa yang dipelajari,” pungkas Waty. (mm/ys/ms)