20 April 2026 - Oleh
Kategori :
Kuliah Umum Fakultas Ekonomika dan Bisnis Bahas Digital Ekonomi Bersama Bank Indonesia

UNWIRA – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Widya Mandira menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Digital Ekonomi” bekerja sama dengan Bank Indonesia, pada Senin (20/04/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula St. Hendrikus, Gedung Rektorat UNWIRA ini menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, sebagai narasumber utama.
Turut hadir Wakil Rektor II, P. Dr. Paskalis Seran, SVD., MBA, Dekan FEB, Dr. M. E. Perseveranda, SR., M.Si., para dosen serta mahasiswa sebagai peserta.
Pater Paskalis Seran dalam sambutannya menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat. Menurutnya, ekonomi digital bertumpu pada tiga pilar utama, yakni platform, data, dan konektivitas yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan ekosistem digital yang kuat dan berkelanjutan.
Ia juga menegaskan bahwa sebagai institusi pendidikan tinggi, UNWIRA tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga mampu membaca arah perubahan zaman serta mengambil peran strategis di dalamnya.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus didorong untuk menjadi inovator dan problem solver dalam ekosistem ekonomi digital,” tegasnya.
Baca Juga: KSPK UNWIRA Gelar Workshop Penulisan Artikel Populer bagi Wartawan Kampus
Sementara itu, dalam paparannya, Adidoyo Prakoso, menekankan pentingnya transformasi digital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menjelaskan bahwa digitalisasi menjadi bagian dari revolusi industri yang terus berkembang dan berdampak langsung pada sektor ekonomi dan keuangan.
Ia juga memaparkan berbagai kebijakan dan strategi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital.
“Peran Bank Indonesia sangat penting dalam mengembangkan sistem pembayaran digital serta memastikan ekosistem keuangan yang inklusif dan aman,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Adidoyo menjelaskan tren perkembangan ekonomi dan keuangan digital yang terus meningkat, termasuk transformasi digital pada sektor keuangan. Salah satu contohnya adalah penggunaan QRIS sebagai sistem pembayaran digital yang mempermudah transaksi dan memperluas inklusi keuangan masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemudahan ini dibarengi dengan berbagai tantangan dalam ekonomi keuangan digital, seperti keamanan data, literasi digital, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat.
Baca Juga: UNWIRA Resmi Terima SK Pembukaan Program Studi Magister Hukum
Pada sesi diskusi, Fendy, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, mengemukakan pandangan kritis terkait implementasi digitalisasi di daerah. Ia menilai digitalisasi seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya transaksi elektronik, tetapi juga dari sejauh mana mampu meningkatkan pendapatan, produktivitas, dan daya saing masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
Fendy juga mempertanyakan apakah Bank Indonesia memiliki ukuran yang jelas untuk membedakan digitalisasi yang benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan digitalisasi yang hanya meningkatkan jumlah transaksi tanpa berdampak signifikan terhadap pendapatan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Adidoyo Prakoso mengapresiasi pertanyaan tersebut sebagai kritik yang relevan. Ia menyampaikan bahwa masukan tersebut menjadi perhatian penting bagi Bank Indonesia dalam memperkuat dan mempertajam indikator pengukuran digitalisasi agar tidak hanya berfokus pada aspek transaksi, tetapi juga pada dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (nm/ys/ms)