23 April 2026 - Oleh

Kategori :

Mimbar Bebas Mahasiswa Prodi IPM FISIP UNWIRA: Ruang Advokasi dari Kelas ke Realitas Kampus


UNWIRA - Mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Pemerintahan menggelar mimbar bebas pada Rabu (22/04/2026), di Lobi FISIP UNWIRA. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dibagi ke dalam enam kelompok, dengan masing-masing kelompok mengangkat satu isu seputar kampus, mulai dari fasilitas, kebebasan ilmiah, pelayanan, kekerasan seksual, evaluasi terhadap BEM Program Studi Ilmu Pemerintahan, hingga biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). 

Selain melalui mimbar bebas, mahasiswa juga menampilkan kliping-kliping isu yang ditempelkan pada mading fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Advokasi Kebijakan.

Dalam arahannya, penanggung jawab mata kuliah, Emanuel Kosat, S.IP., M.KP., mengarahkan setiap mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya secara tertib dan menghindari tindakan anarkisme. Walaupun ini adalah mimbar bebas, ia mengingatkan mahasiswa untuk tetap menjaga kesantunan dan tidak menyinggung unsur SARA.

Avryana Baso, S.I.P., MA., yang juga merupakan penanggung jawab mata kuliah menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan ruang praktik nyata bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan strategi advokasi kebijakan yang telah dipelajari di kelas.

“Kelas ini adalah kelas advokasi kebijakan yang artinya mahasiswa diajak untuk berpikir tentang strategi mengadvokasi kebijakan. Kita sudah berbicara itu di kelas dan banyak sekali simulasi tentang cara mengadvokasi kebijakan dengan berbagai metode yang ada. Saat ini UTS dipilih di luar kelas karena selama ini simulasi terjadi di dalam kelas sementara advokasi itu harus membebaskan dan cara pertama untuk membebaskan yaitu dengan membebaskan mahasiswa dari ruang kelas,” terangnya.

Baca Juga: Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UNWIRA dibekali Strategi Pemberdayaan Masyarakat Jelang MBKM

Ia juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak hanya sekadar memenuhi nilai UTS, tetapi menjadi ruang yang mampu membuka wawasan dan memacu semangat mahasiswa untuk belajar tentang advokasi.

“Advokasi bukan tentang hal-hal yang besar, tetapi dimulai dengan kegiatan-kegiatan advokasi di tingkat yang paling dekat contohnya di tingkat fakultas dan prodi,” terang Avryana.

Sandrian Nau, mahasiswa semester enam dan salah satu orator dalam kegiatan mimbar bebas ini menjelaskan isu yang diangkat oleh kelompok mereka.

“Saya anggota kelompok 6 dengan topik Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayar mahasiswa setiap semester sedangkan fasilitas yang diterima tidak sesuai,” ujarnya.

Ia mengatakan ada perbedaan fasilitas di FISIP dengan fakultas lain meskipun membayar UKT yang sama.

“Di dalam uang UKT sudah tercantum uang pembangunan, tetapi pembangunan mana yang dibangun untuk fakultas kami. Kami berharap pihak kampus lebih peka dengan situasi yang ada di fakultas kami agar tidak sia-sia,” terangnya.

Kegiatan yang dilaksanakan di lobi FISIP ini menarik perhatian banyak mahasiswa dan dosen yang akhirnya ikut memberikan aspirasi mereka.