25 May 2026 - Oleh
Kategori :
LPPM UNWIRA Perkuat Budaya Menulis Dosen Melalui Pelatihan Buku Referensi dan Monograf

UNWIRA – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) menggelar pelatihan penulisan buku referensi dan monograf bagi para dosen, pada Senin (26/05/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Aula St. Paulus, Gedung Rektorat UNWIRA, dan melalui Zoom Meeting ini menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. Estri Laras Arumingtyas, M.Sc.St. (Universitas Brawijaya) dan Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Syam, ST., MT., IPM (Universitas Nusa Cendana).
Sekretaris LPPM UNWIRA, Beatrix Yunarti Manehat, SE., M.SA., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan program rutin yang dilaksankan sebagai bagian dari luaran hibah buku yang dikelola LPPM.
"Tujuan utamanya adalah meningkatkan kompetensi dosen dalam menulis buku monograf dan referensi, mendongkrak kualitas serta jumlah publikasi, sekaligus mendorong kenaikan jabatan fungsional dosen," jelas Beatrix.

Beatrix juga menjelaskan bahwa pelatihan kali ini tidak hanya berfokus pada pemaparan materi, tetapi menghadirkan sesi pendampingan secara langsung.
“Bapak dan Ibu dosen diharuskan untuk memiliki naskah sendiri, sehingga hari ini bisa langsung dididiskusikan dan dibedah bersama narasumber,” jelasnya.
Beatrix juga menjelaskan sejumlah persyaratan bagi dosen yang ingin mengakses hibah buku, di antaranya menyertakan bukti bebas plagiasi dan menerbitkan buku melalui penerbit resmi.
Selain hibah tersebut, ia menjelaskan bahwa LPPM juga menyediakan insentif bagi dosen yang telah menerbitkan bukunya. Untuk mendapatkan insentif ini, dosen tidak perlu melewati proses seleksi, tetapi cukup melalui uji kelayakan sesuai standar LPPM.
Dalam satu tahun anggaran, LPPM membuka empat gelombang pendaftaran dengan target luaran sebanyak 20 buku. Melalui berbagai dukungan ini, LPPM berharap semangat menulis buku di kalangan dosen UNWIRA terus meningkat.
Pada sesi paparan materi, Prof. Estri menyoroti paradigma yang sering menjadi hambatan saat menulis. Menurutnya, banyak dosen yang terlalu lama berpikir sebelum mulai menulis.
“Akibatnya tulisan itu tidak pernah jadi,” ujarnya.
Baca Juga: UNWIRA dan KPU NTT Jalin Kerja Sama Penguatan Pendidikan Demokrasi
Ia menyarankan para dosen untuk mulai dan fokus menulis terlebih dahulu serta menetapkan target penyelesaian naskah, sementara proses penyuntingan (editing) dilakukan setelahnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menyusun outline buku yang dinilai dapat membantu alur berpikir tetap terarah, mempermudah proses penulisan per bab, menghindari pengulangan pembahasan, dan membantu menjaga konsistensi isi buku.
Prof. Estri mengingatkan para dosen bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat langka, melainkan kebiasaan yang perlu terus dilatih.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. H. Sudirman memberikan beberapa tips perencanaan efektif untuk buku monograf. Beberapa di antaranya adalah menyiapkan 70 persen referensi sebelum mulai, berkonsultasi dengan penerbit bereputasi, serta membuat backup data dan draft secara rutin.
Ia juga menjelaskan bahwa kualitas monograf ditentukan oleh kedalaman riset, orisinalitas, dan metodologis.
Untuk menjaga orisinalitas, lanjutnya, ia menyarankan untuk memaksimalkan penggunaan Turnitin serta memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak.
Di akhir paparannya, Prof. Sudirman menegaskan bahwa proses penulisan yang sistematis dan terencana merupakan kunci keberhasilan dalam menghasilkan buku monograf maupun referensi yang berkualitas. (ys/ms)