25 November 2025 - Oleh

Kategori :

UNWIRA Kupang Gelar Seminar Internasional Mengenai Transformasi Komunikasi di Era Post-Truth


UNWIRA — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) menyelenggarakan seminar internasional bertajuk International Seminar: Progressive Digitalization Action dengan tema “Artificial Intelligence and the Transformation of Human Communication in the Post-Truth Era.” Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (25/11/2025) di Aula St. Paulus, Lantai 4 Gedung Rektorat UNWIRA, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Program Studi Ilmu Komunikasi.

Acara yang dimulai pukul 08.30 WITA tersebut menghadirkan para pakar dari dalam dan luar negeri, di antaranya RP. Paul Rahmat, M.A. dari Vivat International, USA; Fr. Kasmir Nema, SVD., MTS, MA., Ph.D dari Roma, Italia selaku SVD General Coordinator for Communication; Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S dari Universitas Nusa Cendana; serta dua akademisi UNWIRA, yakni P. Yoseph Riang, SVD, S.Fil., M.Th., M.I.Kom. dan Yulianti Paula Bria, ST., MT., Ph.D.

Baca Juga: Mahasiswa Prodi Manajemen UNWIRA Raih Juara 2 Lomba Esai di PIMNAS 5

Seminar dipandu oleh Yohanes Kornelius Ethelbert, S.Fil., MPA. Turut hadir Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Nusa Tenggara Timur, Frederik Christian Purwanto Koenunu, ST., M.H.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FISIP UNWIRA, P. Yoseph Riang, SVD., S.Fil., M.Th., M.I.Kom., menekankan pentingnya ruang akademik lintas negara sebagai upaya memperkuat pemahaman Civitas Academica mengenai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pengaruhnya terhadap pola komunikasi global.

Para pemateri menguraikan perkembangan AI dan implikasinya terhadap perilaku komunikasi manusia, terutama di era post-truth yang ditandai kaburnya batas antara fakta dan opini. Mereka menegaskan perlunya literasi digital yang kuat, etika komunikasi berbasis teknologi, serta peran strategis perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan dinamika tersebut.

“Seminar ini menjadi wadah penting untuk memahami bagaimana AI memengaruhi cara manusia berkomunikasi, terutama di era post-truth di mana kebenaran sering kali ditentukan bukan oleh data, melainkan oleh opini yang paling banyak diviralkan,” demikian salah satu penekanan yang muncul dalam diskusi para narasumber.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa dan akademisi mengenai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan AI dalam membangun komunikasi yang etis, kritis, dan bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital. (ar/ys/ms)