21 July 2026 - Oleh

Kategori :

PKM-PM UNWIRA Dampingi Bank Sampah Liliba, Ubah Limbah Rumah Tangga Jadi Bernilai Ekonomi


UNWIRA – Lima mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) melaksanakan program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Limbah Jadi Rupiah: Penguatan Manajemen Internal dan Optimalisasi Pengolahan Kompos untuk Keberlanjutan Bank Sampah Liliba” di RT 041 Kelurahan Liliba, Kota Kupang. Melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang digelar pada Selasa (07/07/2026), mahasiswa mendampingi warga untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik sekaligus memperkuat pengelolaan Bank Sampah Liliba agar lebih berkelanjutan.

Kegiatan yang diikuti sembilan warga penggerak bank sampah tersebut merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Skema Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) yang memperoleh pendanaan tahun 2026. Program ini menekankan pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan melalui penerapan keahlian akademik untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kami tidak ingin sekadar datang, membuat acara, lalu pergi. Harapan kami, warga bisa melanjutkan sendiri apa yang sudah kami latih, sehingga sampah benar-benar bisa menjadi rupiah,” ungkap Ketua Tim, Yonathan Tete.

Tim pelaksana terdiri atas mahasiswa dari Program Studi Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, dan dua mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Kimia. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menggabungkan pendekatan teknis dalam pengolahan sampah organik dengan penguatan aspek ekonomi dan manajemen agar pengelolaan bank sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dalam pelatihan, warga diperkenalkan pada pembuatan pupuk organik cair (POC) menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di rumah, seperti sisa sayuran, kulit bawang, dan air cucian beras. Tim menjelaskan bahwa proses tersebut memanfaatkan fermentasi alami, di mana mikroorganisme menguraikan bahan organik menjadi unsur hara yang dapat dimanfaatkan tanaman.

Warga juga mempelajari dua metode pembuatan pupuk organik cair, yakni metode perendaman dan metode penetesan. Kedua metode tersebut diperkenalkan agar warga dapat memilih cara yang sesuai dengan ketersediaan peralatan di rumah masing-masing.

“Baru tahu saya kalau air beras dan kulit bawang yang biasa dibuang ternyata bisa jadi pupuk. Caranya juga tidak susah, bisa dikerjakan di rumah,” ungkap Marsel, salah seorang peserta.

Baca Juga: UNWIRA Luncurkan Program Desa Binaan, 78 Mahasiswa Siap Mengabdi di Desa Nekmese

Selain pengolahan sampah organik, tim memberikan sosialisasi mengenai pemilahan sampah anorganik sejak dari sumber. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sampah yang dikelola bank sampah sekaligus mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Program ini juga memberikan pendampingan dalam penguatan manajemen internal Bank Sampah Liliba. Warga diajak menyusun sistem pencatatan, alur pengelolaan, dan pembagian tugas agar operasional bank sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan setelah program pendampingan selesai.

Materi disampaikan oleh anggota tim, yakni Gradiana Jenisa Perlita Hale, Maria Selviana Peni Pureklolon, dan Irly Lestriani Haba Kore, yang mendampingi warga mulai dari proses pemilahan sampah, pembuatan pupuk organik cair, hingga pengelolaan bank sampah. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di bawah bimbingan dosen pendamping, Maria Augustin Lopes Amaral, S.E., M.M., yang mengarahkan pelaksanaan program agar tetap terukur, aplikatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.

“Kalau bank sampah ini bisa dikelola dengan rapi, manfaatnya kembali ke warga sendiri. Inilah yang ingin kami tanamkan,” tambah Yonathan.

Melalui program “Limbah Jadi Rupiah”, tim mahasiswa UNWIRA berharap warga mampu melanjutkan pengelolaan Bank Sampah Liliba secara mandiri sehingga pengolahan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. (ys/ms)