09 February 2021 - Oleh
Kategori :
Persiapan Kurikulum Merdeka Belajar: UNWIRA Adakan Kuliah Umum
Dalam rangka persiapan Kurikulum Merdeka
Belajar Kampus Merdeka, Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang
adakan Kuliah Umum dengan mengusung tema Membangun Budaya Teknologi 4.0 dan
5.0 di Tengah Pandemi Covid-19. Kuliah Umum ini dilakukan secara online melalui aplikasi zoom dan channel youTube (akun youTube
Universitas Katolik Widya Mandira). Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00
sampai pukul 13.23 WITA. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian
persiapan penyusunan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka di UNWIRA.

Kuliah Umum ini dibuka sendiri oleh P.
Rektor UNWIRA dengan menyoroti realitas saat ini yang sedang diserang wabah
pandemi covid-19. Menurutnya wabah ini mengakibatkan banyak perubahan di segala
bidang termasuk bidang pendidikan. Selain wabah itu, hal lain yang menurutnya
juga menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan pendidikan yakni
perkembangan teknologi yang cepat. Karena itu ia mengajak segenap civitas
akademika untuk berani menghadapi tantangan itu dan berusaha menyesuaikan diri
dengan segala perubahan yang ada, termasuk penyesuaian kurikulum. Lebih lanjut
ia menyampaikan bahwa latar belakang diadakannya kegiatan ini ialah Kurikulum
Perguruan Tinggi dari tingkat Universitas dan Program Studi terus berubah dan
harus senantiasa berubah untuk disesuaikan dengan berbagai Peraturan Pemerintah
yang telah ada dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Format
Kurikum di UNWIRA belum disesuaikan dengan Format KKNI itu. Format kurikum dan
dari setiap Program Studi UNWIRA masih belum disesuaikan, maka Pusat Inovasi
dan Teknologi Pembelajaran (PITP) UNWIRA meneyelenggarakan Webinar dan
Lokakarya ini, ungkap Rektor UNWIRA itu .

Peserta webinar sedang mengikuti Kuliah Umum /Foto screenshot akun youtube Unwira
Ada tiga orang narasumber dalam kuliah
umum ini antara lain; P. Dr. J. Haryatmoko, SJ - Dosen Universitas Sanata
Dharma (Pembicara I), P. Dr. Philipus Tule, SVD Rektor Universitas Katolik
Widya Mandira (Pembicara II), Dr. Nobert Djegalus, Ph.D Dosen Filsafat
Universitas Katolik Widya Mandira (Pembicara III). Seluruh proses Kuliah Umum
ini dimoderatori oleh Drs. Marianus Kleden, M.Si Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik UNWIRA.
Narasumber I membawakan materi dengan
judulKepemimpinan Merdeka Belajar di Era Teknologi 4.0 dan 5.0
di Tengah Tantangan Pandemi Covid-19. Dalam materinya itu ia menjelaskan Revolusi
Industri yang melahirkan fenomena disrupsi dan lebih tepatnya disrupsi inovatif.
Baginya dalam fenomena disrupsi itu manusia tidak boleh membiarkan teknologi
mengambil seluruh perannya melainkan memanfaatkan teknologi untuk melihat
peluang positif yang bisa dikembangkan untuk pembaharuan dan terutama
pembaharuan dalam sistem pendidikan. Singkatnya revolusi industri sebagai
disrupsi inovatif harus melahirkan model kepemimpinan baru (bukan hierarkis
melainkan jejaring) yang bisa menghasilkan suatu perubahan sistem pendidikan. Ia menambahkan perubahan
sistem pendidikan itu sejatinya akan melahirkan visi baru dan model
pembelajaran baru. Visi baru meliputi keterampilan, perubahan pola pikir
pendidik, peran baru pendidik, dan strategi penempatan pembelajaran. Sedangkan model
pembelajaran baru meliputi pelatihan kerjasama dalam bentuk proyek untuk
kreativitas, latihan problem-solving dengan
cara kreatif dan inovatif, pentingnya menyadari perubahan cara pembelajaran generasi
digital, pendidikan kharakter, pendidikan menghadapi post-truth dan radikalisme, dan pentingnya internalisasi nilai
(habitus atau etos). Ia menekankan bahwa dosen bukan lagi menjadi satu-satunya
pihak yang menyediakan informasi melainkan harus menciptakan kondisi agar
mahasiswa itu bisa melakukan analisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Organisasi
itu utamanya adalah kerjasama, menciptakan kecerdasan kolektif dan pimpinan
harus menjadi seorang penebar harapan dan menumbuhkan resiliensi, kata penulis
buku, Jalan Baru Kepemimpinan dan
Pendidikan; Tantangan Pendidikan Tinggi di Era Pandemi dan Perubahan itu.

Rm. Dr. J. Haryatmoko, SJ sedang membawakan Materi Kuliah Umum/Foto screenshot akun youtube Unwira
P. Dr. Philipus Tule, SVD sebagai pemateri II membawakan
materi berjudul Menggagas Tradisi Belajar Masyarakat NTT di Era Teknologi 4.0
dan 5.0 di Tengah Tantangan Pandemi. Paparan materinya itu lebih kepada
refleksi atas pemahaman teoretis dan pengalamannya sebagai pelajar dan
guru/dosen sepanjang hidup atau ia menyebutnya dengan istilah life-long student and lecturer. Ia membagi
teori praksis pendidikan, pola belajar siswa/mahasiswa dari yang tradisional
hingga yang pada zaman modern saat ini. Ia menyebutkan bahwa ia telah melewati
berbagai model pendidikan mulai dari pola sekolah tradisional sampai pada pola pendidikan
modern yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi terutama revolusi industri
4.0. Revolusi industri itu menyebabkan perubahan cara hidup dan cara kerja
manusia termasuk disiplin pengetahuan. Ia juga mengajak peserta didik untuk meninggalkan
kebiasaan belajar lama kepada kebiasaan belajar baru, meninggalkan kebiasaan
belajar untuk mendapatkan ijazah kepada belajar demi kehidupan, beralih dari
pola belajar tradisional ke pola belajar modern dengan cara memanfaatkan
fasilitas teknologi canggih secara bijaksana. Karena itu, lembaga pendidikan
kita di Provinsi NTT (terlebih UNWIRA) sudah harus beralih dari kebijakan
investasi sarpras fisik menuju investasi teknologi canggih (internet, platform
digital CelWira, akun zoom unlimited, semua dosen memiliki akun Sinta, Garuda,
Researchgate, Orcid, Publons, dan lainnya), tegas ahli Islamologi itu.

P. Dr. Philipus Tule, SVD sedang membawakan Materi Kuliah Umum/Foto screenshot akun youtube Unwira
Tidak kalah menariknya dengan materi yang dibawakan oleh
pemateri I dan II, pemateri III menyajikan materi dengan judul “Membangun Komunikasi
Pembelajaran Virtual dalam Spirit Misericordia Vultus atau Wajah Kerahiman. Dalam materinya itu ia berbicara khusus tentang manusia dan teknologi
pembelajaran. Ia berbicara dari sudut pandang ajaran Gereja dan filsafat
tentang humanisme dan transhumanisme. Menurutnya, pendidikan nasional dan
pendidikan pada pada umumnya haruslah menganut paham humanisme. Hal itu berarti
bahwa pendidikan terutama yang berbasiskan teknologi harus bertujuan untuk
memanusiakan manusia. Baginya perkuliahan berbasiskan teknologi harus
didasarkan atas tindakan komunikatif dan bukan tindakan strategis. Lebih lanjut
ia menekankan bahwa pembelajaran di era pandemi ini tidak hanya bergerak pada
etika keadilan melainkan lebih dari pada itu harus mengutamakan etika
kepedulian, peduli terhadap kondisi mahasiswa-mahasiswi. Tugas dosen tidak
hanya melakukan transfer of knowledge dan
transfer of skills tetapi juga transfer of values, tambah dosen
Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira itu.

Dr. Nobert Djegalus, Ph.D sedang membawakan Materi Kuliah Umum/Foto screenshot akun youtube Unwira
Seluruh
peserta webinar mengikutinya dengan penuh antusias. Hal itu terlihat dari
banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada setiap narasumber dan
pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan sangat baik. Peserta yang terlibat
dalam kuliah umum itu berjumlah 800 lebih orang yang mengikutinya via zoom dan 2.500 lebih orang yang
mengikutinya melalui live streaming
di channel youtube UNWIRA.

Peserta webinar sedang mengikuti Kuliah Umum /Foto screenshot akun youtube Unwira
Sebagai
lanjutan dari kegiatan Kuliah Umum ini, akan diadakan lokakarya Kurikulum
Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang akan berlangsung selama dua hari yakni
dari tanggal 10 sampai 11 Februari 2021.
***Fr. Ertus Sie, SVD***