29 September 2021 - Oleh
Kategori :
BI NTT MENGAJAR MAHASISWA UNWIRA KUPANG KEDAULATAN RUPIAH
Bank
Indonesia Perwakilan NTT (BI NTT) kembali menggelar program BI Mengajar yang
kali ini diberikan kepada mahasiswa Universitas
Katolik Widya Mandira Kupang ( Unwira Kupang).
Program BI Mengajar ini dilaksanakan pada Selasa, 28 September 2021, yang mana dengan tema peran BI sebagai bank sentral dalam digitalisasi ekonomi dan keuangan di Indonesia.
Peran Bank Indonesia sebagai bank
sentral dalam digitalisasi keuangan dan ekonomi nasional, kata dia,
adalah melalui stabilitas moneter, sistem pembayaran dan stabilitas sistem
keuangan.
BI mengajak mahasiswa mengenal
QRIS, GPN, keuangan inklusi. Adanya QRIS, kata dia,
untuk mendukung ekosistem keuangan dengan 12 juta merchant yang telah mencapai
10 juta merchant saat ini.
Ia juga menyampaikan rupiah yang
harus berdaulat yaitu dengan transaksi menggunakan rupiah di wilayah Indonesia.
Rektor Universitas Widya Mandiri
Kupang (UNWIRA) Kupang, Philipus Tule, juga menanggapi kegiatan itu dengan
apresiasi.
Ia menyebut UNWIRA sejak 30 Juli
2018 telah bekerjasama menyediakan BI Corner sebagai sumber belajar dengan 300
buah buku koleksi dan 1000 e-book. BI Corner setahun
kemudian, 27 September 2019, diresmikan Deputi Senior Bank Indonesia
Menurut dia, melalui kegiatan BI
Mengajar ini dapat mengembangkan efektivitas belajar di tengah pandemi. Ia
menyambut dan mendukung kegiatan ini agar berjalan baik.
Daniel Agus Prasetyo Deputi Kepala
Perwakilan BI NTT pada kesempatan pertama
memberikan materi tentang QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dan
GPN (Gerbang Pembayaran Nasional).
Daniel menjelaskan soal sistem
pembayaran dari tunai hingga dengan non tunai atau digital. Interkoneksi dan
interoperabel menjadi syarat pembayaran sistem secara digital misalnya dengan
QR code atau menggunakan aplikasi dan sistem pembayaran lainnya.
QRIS juga sangat cocok sebagai
alat transaksi dalam masa pandemi ini misalnya melalui OVO, GO-PAY dan mobile
banking Bank NTT. QRIS juga sangat aman dalam transaksi.
"Sudah ada 60 penyelenggara
bank dan non bank yang menggunakan QRIS ini," kata dia.
Pembayaran menggunakan QR CODE,
kata dia, sudah terintegrasi diaplikasi mobile banking atau mobile payment.
QRIS sendiri dibangun bersama oleh BI dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI)
yang didukung penyelenggara bank dan non-bank seperti Mandiri, BNI, BRI, BCA,
BSM, CIMB, BPD, Gopay, Ovo, Dana, Linkaja, Shopee, dan lain-lain.
QRIS sendiri menghubungkan dengan
sumber dana yang telah familiar seperti tabungan, kartu debet, yang
elektronik dan kartu kredit.
Lexy Alexander Nggelan yang juga
dari BI NTT pada
kesempatan yang sama menjelaskan rupiah sebagai pemersatu bangsa dengan
penggunaan uang rupiah di Indonesia untuk menjaga kedaulatan rupiah di wilayah
NKRI.
"Kalau ada uang yang rusak
atau robek dapat ditukar di Bank Indonesia atau kas titipan Bank Indonesia
bersama bank-bank lainnya," kata dia.
Ia juga menceritakan perjalanan
uang dari awal mula pada 1946 hingga dengan saat ini yang dicetak oleh
Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Sejak awal uang
yang dicetak juga dengan serinya masing-masing seperti soal budaya, tokoh
nasional, hewan-hewan langka dan ikonik Indonesia atau objek wisata lainnya.
Handrianus P. Asa, narasumber
lainnya BI NTT menyampaikan
tentang keuangan inklusif setelah, itu. Menurutnya institusi keuangan berperan
dalam ekonomi masyarakat terlebih setelah krisis ekonomi 2008 yang mana
kelompok bawah masyarakat berpendapatan rendah sangat terdampak. Untuk kita
perlu diberikan akses terhadap lembaga keuangan dan pengetahuan informasi soal
itu dalam keuangan inklusif.
Untuk itu, stabilitas sistem
keuangan perlu dijaga demi mendukung perbankan sebagai intermediasi dalam
penghimpunan dana dan penyalurannya kepada masyarakat.
Daerah-daerah terluar juga perlu
mendapatkan hak akses yang sama dan perlu ada inovasi dari perbankan untuk
menjangkau daerah tak terjangkau.
Indonesia dengan perkembangan
inklusi telah mencapai 76 persen dengan indikator kepemilikan rekening dan
penggunaan produk layanan perbankan.
Untuk akses layanan non keuangan
seperti kantor atau bank di Indonesia cukup baik dibandingkan dengan Malaysia,
India dan Thailand. Untuk ATM Indonesia
juga cukup baik aksesnya meski penggunaannya masih jauh dibandingkan negara
lainnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Pos-Kupang.com dengan judul BI NTT
Mengajar Mahasiswa Unwira Kupang Kedaulatan Rupiah, https://kupang.tribunnews.com/2021/09/29/bi-ntt-mengajar-mahasiswa-unwira-kupang-kedaulatan-rupiah?page=all.