15 March 2022 - Oleh

Kategori :

Rektor Unwira Jadi Pembicara dalam Simposium Internasional Moderasi Beragama


Rektor Unwira, P. Dr. Philipus Tule, SVD menjadi salah satu pembicara dalam Simposium Internasional Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh El-Bukhari Institute dan Laboratorium Pengembangan Sosial Keagamaan (LABSA) UIN Ar Raniry, Banda Aceh bekerja sama dengan Kementrian Agama RI. Tema Simposium tersebut ialah Moderasi Beragama: Antara Cita-cita dan Realita. Kegiatan ini dilaksanakan secara online yang diikuti banyak peserta, yang memiliki semangat yang sama membentuk hidup bersama yang lebih inklusif. Kegiatan ini pun menghadirkan pembicara dari perwakilan berbagai negara dan beberapa daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi semacam forum menyatukan berbagai pandangan dan pengalaman moderasi beragama  dari berbagai negara dan konteks daerah di Indonesia. Kegiatan dimaksud dilaksanakan pada tanggal 9-11 Maret 2022.

Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas, menjadi Keynote Speech dalam kegiatan tersebut dan membawakan materi tentang Tantangan dan Peluang Moderasi beragama di Indonesia. Bagi Menteri Agama RI, Moderasi Beragama di Indonesia selalu berhadapan dengan berbagai tantangan serius yang mengharapkan kerja sama yang baik dari segenap masyarakat Indonesia untuk berani melawan tantangan itu. Moderasi Beragama harus terus digalakkan di tengah semakin gencarnya bahaya radikalisme agama di Indonesia.

Sementara itu, Pater Dr. Philipus Tule, SVD membawakan materi Politik Moderasi Beragama di Nusa Tenggara Timur. Dalam makalahnya, yang dibawakan pada Kamis, 10 Maret 2022, Pater Philipus yang adalah juga Islamolog dari NTT, menegaskan bahwa radikalisme agama menjadi tantangan moderasi beragama di NTT dan dapat mengancam kelanggengan Pancasila serta NKRI. Aktivitas pengembangan Moderasi Beragama di Provinsi NTT (dan juga Indonesia) sebagai cita-cita nasional terus ditantang oleh berbagai kendala, termasuk fenomena dan realitas radikalisme agama, belum ada keselarasan antara cita-cita dan realitas, jelas Pater Philipus.

Berhadapan dengan ancaman radikalisme agama dan upaya terus menerus moderasi beragama, Pater Philipus menekankan perlunya tindakan preventif, persuasif demi terciptanya umat beragama dan warga masyarakat NTT yang berwawasan moderat, inklusif dan toleran. Musuh bersama kita, lanjut Pater Philipus, bukan hanya ketidakadilan sosial, kemiskinan dan ketertinggalan, tetapi juga ateisme, komunisme, terorisme dan radikalisme agama yang secara gamblang telah menista Allah dan Agama-Agama kita.

Pater Philipus menambahkan bahwa perlu adanya upaya terus menerus meningkatkan pemahamah masyarakat tentang budaya dan agama. Perlu ditingkatkan pemahaman tentang keanekaragaman budaya, etnisitas dan agama. Kita butuh reedukasi pemahaman agama yang benar, revitalisasi dan reinternalisasi nilai-nilai agama dan kebudayaan secara benar dan seimbang, kata Pater Philipus.