14 November 2025 - Oleh

Kategori :

UPT Perpustakaan Hidupkan Diskusi Antropologi Lewat Bedah Buku


UNWIRA – UPT Perpustakaan Pusat Universitas Katolik Widya Mandira menggelar bedah buku Sketsa Dasar, Mengenal Manusia dalam Masyarakat (Pintu Masuk Ilmu Antropologi) karya P. Dr. Gregorius Neonbasu, SVD., pada Jumat (14/11/2025) di Aula St. Paulus, Gedung Rektorat UNWIRA.

Kegiatan ini menghadirkan langsung penulis buku, yang merupakan dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, serta tiga pembedah: Dedimus Dedi Dhosa, S.Fil., MA, Yohana Fransiska Medho, S.IP., M.I.P., dan Bruno Rey Sonby Pantola, S.I.P., M.I.P. Acara turut diikuti dosen dan mahasiswa FISIP UNWIRA.

Baca Juga: Program Studi Ilmu Komunikasi UNWIRA Gelar Diskusi Publik “Tantangan Jurnalisme Masa Kini”

Dalam paparannya, Pater Dr. Gregorius Neonbasu, SVD., menjelaskan bahwa masyarakat harus dipandang sebagai sebuah sistem yang tersusun dari unsur-unsur saling berhubungan satu sama lain dan bergantung.

“Buku ini coba memasangkan beberapa lingkup dan bagaimana dampaknya pada Indonesia yang adalah nusantara yang membentuk masyarakat dari komponen-komponen menjadi satu kesatuan yang berhubungan,” jelasnya.

Pater Gregor menambahkan bahwa meski ilmu Antropologi sering dianggap kurang diminati, buku ini justru banyak mendapatkan perhatian dari berbagai universitas, termasuk UI dan UGM.

Baca Juga: SEMNAPTIKA 5 Angkat Literasi Matematis Abad Digital dan Integrasi Etnomatematika

Para pembedah memberikan apresiasi sekaligus catatan kritis. Yohana Fransiska Medho menilai buku ini sebagai pengantar antropologi yang komprehensif dan relevan untuk memahami keragaman sosial-budaya Indonesia.

“Buku ini bukan hanya menyajikan kebudayaan, tetapi membantu memahami manusia secara utuh,” ujarnya.

Di sisi lain, Dedi Dhosa menyoroti belum munculnya aspek ekologi dalam pembahasan makro-mikro. Sementara Bruno Rey Sonby Pantola menilai bahwa meski penulis berhasil menggambarkan peralihan individu menjadi masyarakat, tetapi penulis belum mengklasifikasikan pemerintahan dan masyarakat menjadi penduduk, warga, umat, dan rakyat. 

Secara umum, para pembedah menilai buku ini kaya materi, menawarkan perspektif struktural sekaligus kelas budaya, tetapi masih membutuhkan contoh konkret dan perbandingan masa lalu–kini untuk memperkuat analisis. (mm/ys/ms)