15 November 2025 - Oleh

Kategori :

Layanan Karier UNWIRA: Peran Influencer dalam Ekonomi Digital


UNWIRA – Kantor Kerja Sama dan Pusat Karier (KSPK) berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mengadakan kelas layanan karier bertema “Peran Influencer dalam Mendorong Kewirausahaan dan Pembangunan Daerah di Era Digital” pada Jumat (14/11/2025) di Aula St. Hendrikus, Gedung Rektorat Lantai 4 UNWIRA.

Layanan karier ini menghadirkan dua alumnus Prodi Ilmu Komunikasi UNWIRA sebagai narasumber: Mario E. R. Lema (Manajer Dapur Flobamorata, Wakil Ketua BPD HIPMI NTT) dan David R. M. Putra (Wakil Sekretaris Umum BPD HIMPI NTT – Bidang OKK), dipandu oleh Meylisa Sahan, Kepala KSPK dan Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, serta diikuti oleh mahasiswa FISIP.

Baca Juga: UPT Perpustakaan Hidupkan Diskusi Antropologi Lewat Bedah Buku

Dalam sambutannya, Wakil Dekan II FISIP, P. Yoseph Riang, SVD., S.Fil., M.Th., M.I.Kom., menekankan bahwa influencer kini menjadi aktor sentral dalam ekonomi digital.

“Mereka tidak hanya memasarkan produk, tetapi juga membentuk makna, gaya hidup, dan preferensi masyarakat melalui kredibilitas berbasis kedekatan dan narasi personal,” ungkap Pater Yoseph Riang. 

Selanjutnya, dalam sesi pemaparan materi, Mario Lema membahas peran influencer sebagai opinion leader yang mempengaruhi dinamika sosial, ekonomi, dan politik dalam pembangunan daerah. Meski demikian, ia menyebut peran dibarengi dengan tanggung jawab etis yang harus diemban, terutama di era digital. 

Melanjutkan sesi berikutnya, David Putra menjelaskan bagaimana influencer dapat mendorong minat kewirausahaan melalui informasi, inspirasi, dan pemanfaatan media sosial.

"Influencer memanfaatkan media sosial untuk melihat potensi dan membaca peluang usaha atau bisnis, membuka komunikasi dan kolaborasi dengan brand, dan dapat mengubah mindset yang masih berorientasi pada PNS," tambahnya.

Namun, David mengingatkan tantangan era digital, seperti hoaks, kurangnya sensitivitas, kedangkalan substansi, perilaku konsumtif, pergeseran realitas, hingga burnout society, yang perlu diwaspadai generasi muda.

Kegiatan ini menekankan bahwa influencer turut berkontribusi dalam pembangunan daerah dan perkembangan ekonomi digital, tetapi harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial, serta dukungan regulasi dan infrastruktur. (yp/ys/ms)