28 September 2021 - Oleh
Kategori :
Pemprov NTT dan Unwira Kerjasama Tingkatkan Kapasitas BUMDes

Gubernur
Viktor Laiskodat menyaksikan penandatanganan kerjasama Pemprov NTT dan Unwira.
Senin (27/9/2021),
menjadi momentum bersejarah bagi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Karena dilakukan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Unwira dengan
Pemerintah Provinsi NTT, tentang Peningkatan Kapasitas Badan Usaha Milik Desa
(BUMDES) dalam rangka Pemanfaatan Sumber Daya Lokal Melalui Kuliah Kerja Nyata
(KKN) Tematik.
Yang
istimewa adalah Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat hadir secara langsung
untuk melakukan MOU dimaksud, sekaligus melakukan urun rembuk dengan civitas
akademika Unwira. Gubernur juga mengaku bahwa kehadirannya adalah untuk memberi
ucapan selamat dan apresiasi secara langsung kepada Pater Dr Philipus Tule,
SVD, yang oleh Viktor disebut sebagai seorang Guru. Sebab saat pelantikan
sebagai rektor Unwira untuk periode 2021-2025, Jumad (24/9/2021), Gubernur
Viktor sedang ada agenda yang lain.
Berdasarkan
rilis yang disampaikan Dosen FISIP Unwira, Mikhael Rajamuda Bataona, acara urun
rembuk Unwira dan Pemprov NTT, berlangsung hangat dan penuh suasana keakraban.
Dalam sambutan selamat datang kepada rombongan Gubernur NTT, Rektor Unwira,
Pater Dr. Philipus Tule mengatakan, sangat berterima kasih kepada Gubernur NTT,
dan Pemprov yang hari ini berkunjung ke Unwira dan mau bekerjasama untuk
membangun NTT.
Kami
mengucapkan selamat datang kepada bapak Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, yang
meskipun tidak sempat hadir pada acara Dies Natalis dan pelantikan saya sebagai
Rektor, karena sedang bertugas di Kabupaten TTS, tetapi hari ini sudah
meluangkan waktu khusus untuk mengunjungi Unwira. Ini sebuah kehormatan bagi
kami di Unwira. Apalagi ini menjadi kunjungan perdana Bapak Gubernur di kampus
kami ini. Kami semua tentu merasa bahagia dan menyambut Bapak Gubernur dengan
bangga dan tulus. Dan yang juga penting adalah, hari ini juga kita akan
melakukan urun rembuk tentang program dan kegiatan pembangunan di provinsi ini
dengan menandatangani perjanjian kerjasama penguatan kapasitas BUMDES. Tentu
ini sebuah momentum bersejarah bagi kita semua, kata Pater Philipus.
Menurut
pakar Islamologi ini, Unwira saat ini telah berusia 39 tahun, dengan 7 Fakultas,
21 Program Studi. Unwira juga memiliki 235 dosen, 145 pegawai, 6.865 mahasiswa,
dan 20.000-an alumni yang tersebar di seantero dunia; Timor Leste, Spanyol,
India, Brasil, Afrika, Eropa dan AS, juga di Indonesia dan berbagai
kabupaten/kota di NTT. Mereka semua, para alumni Unwira ini, tentu saja sudah
dan sedang dengan caranya bekerja dan berbuat untuk membantu memajukan provinsi
ini.
Sebagai
sebuah Lembaga Perguruan Tinggi Swasta, Unwira tentu sangat menyadari bahwa
tugas Unwira adalah bermitra dengan pemerintah dan semua stakeholder terkait
untuk mendayagunakan semua potensi sumber daya melalui kegiatan Tridharma
(Pendidikan, Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat).
Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan PTS yang sungguh kompeten, kreatif,
produktif dan inovatif. Di mana, sebut Pater Philipus, Unwira selalu berjuang
agar lulusan yang dihasilkan, sanggup membawa perubahan (tranformasi) atau
inovasi (perubahan) bagi masyarakat NTT. Sebab, masyarakat NTT hingga kini masi
terklasifikasi sebagai Yang Tertinggal dalam berbagai aspek pembangunan;
yaitu sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.
Unwira
juga, sebut Pater Philipus, sangat berterima kasih kepada Pemerintah RI dan
Pemda NTT yang senantiasa mendukung Unwira melalui beasiswa
(Bidikmisi/KIP-Kuliah, PPA, UKT) dan juga bantuan serpas (jalan raya kampus
senilai Rp 4 miliar, Rusunawa senilai Rp 13.320.319.000 miliar) dan dukungan
moril lainnya. Untuk itu, lanjut Pater Philipus, Pada kesempatan kunjungan
kerja dan penandatanganan perjanjian kerja sama ini, saya sebagai Rektor atas
nama segenap lembaga dan Civitas Academica Unwira menyatkan bahwa, kami
berkomitmen untuk terus mendukung Pemda NTT dalam menyukseskan berbagai program
pembangunan dengan partisipasi dan keterlibatan institusi dalam peningkatan
kualitas pendidikan di NTT, baik pendidikan dasar dan menengah serta Perguruan
Tinggi, melalui riset dan pengembangan publikasi serta literasi di berbagai
bidang.
Selain
itu, Unwira juga membutuhkan dukungan pemerintah pusat dan Pemda NTT dalam
program pengembangan Unwira. Yaitu untuk menyukseskan Program Panca Citra
Unwira Unggul 2025 sesuai dengan Renstra Unwira 2021-2025, menjadi salah satu
perguruan tinggi Unggul/Terbaik di NTT. Artinya, sebagaimana Renstra Unwira periode
2021-2025 telah disasarkan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun ke depan Unwira akan
mencapai peringkat unggul (atau A). Keunggulan itu bukan saja ditargetkan untuk
memenuhi 9 kriteria sebagaimana ditetapkan BAN-PT, tetapi juga unggul melalui
berbagai usaha inovasi dan transformasi yang membawa perubahan bagi masyarakat
NTT dalam kerjasama dengan berbagai pihak (stakeholders) khususnya Pemprov NTT.
Dalam
rangka kemitraan dengam Pemda NTT, Unwira akan mewujudkan motto Ut Vitam
Habeant Abundantius (supaya mereka memiliki kehidupan dalam kelimpahan), bukan
saja untuk Unwira tapi juga untuk segenap masyarakat NTT, tutup Pater
Philipus.
Guru
dan Sahabat Saya
Dalam
arahannya, Gubernur VBL nampak sangat bersemangat dan bahagia. Pada momentum
hari ini, saya hadir di sini untuk mengucapkan selamat kepada guru saya, Pater
Philipus, yang kembali dilantik menjadi Rektor Unwira, ujarnya.
Menurut
Viktor, Pater Dr Philipus Tule adalah gurunya dan sudah bersahabat baik dengan
Rektor Unwira ini, jauh sebelum menjadi rektor di STFK Ledalero dan Rektor di
Unwira. Viktor bercerita, dia sering ke Ledalero untuk berdiskusi dengan para
pastor di sana. Banyak ilmu sudah ia terima dari Pater Philipus sejak muda,
bahkan hingga saat ini. Di mana, Viktor sangat menghafal model catatan atau
analisis dari Pater Philipus.
Kalau
ada catatan dari para tim ahli, maka Pater Philipus punya itu paling beda. Dan
itu saya sangat hafal betul. Sebab analisisnya pasti punya landasan berpikir
yang mendalam, cerita Viktor. Karena itu, Viktor merasa wajib datang ke Unwira
untuk mengucapkan selamat atas pelantikan Pater Philipus sebagai Rektor Unwira
untuk periode kedua.
Sedangkan
dengan Pater Yul, ketua Yapenkar, Viktor mengaku sudah menjadi sahabat Pater
Yul saat sama-sama menempuh pendidikan lanjut di Salatiga. Karena itu, Viktor
mengaku, sudah mengenal baik kedua pimpinan Unwira dan Yapenkar ini. Untuk itu,
pada hari ini, dia sengaja mengagendakan secara khusus datang ke Unwira untuk
berkolaborasi meningkatkan kapasitas BUMDes melalui KKN tematik.
Viktor
juga mengaku sangat bersyukur karena hari ini bisa datang ke Unwira dan
mewujudkan kolaborasi mewujudkan perubahan NTT. Menurut Gubenur Viktor, saat
ini, NTT sedang dinarasikan kembali. Yaitu narasi tentang kekayaan dan
potensi-potensi NTT, untuk memastikan kemajuan NTT melalui perubahan mindset
masyarakat. Sehingga ke depan, NTT memiliki generasi unggul dan inovatif yang
bisa memaksimalkan segala potensi yang ada di NTT. Dan untuk mencapai hal
tersebut, dibutuhkan kerjasama dan kolaboroasi dengan seluruh stakeholder
terkait, termasuk Perguruan Tinggi. NTT, sebut Viktor, membutuhkan generasi
yang unggul dan visioner. Dan itu hanya bisa dilahirkan di kampus-kampus dan
universitas.
NTT,
sebut Viktor, tidak mungkin diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan yang panas
dengan alam yang begitu menantang tanpa punya tujuan mulia di baliknya. Hanya
misteri ilahi itu belum banyak tersingkap. Sehingga saat ini NTT lebih tepatnya
disebut sebagai negeri yang sangat kaya raya sumber daya alamnya, tapi miskin
inovasi. Padahal, dari 9 komoditi unggulan di dunia, delapannya ada di NTT;
mulai dari garam, ikan, lobster, mutiara, kakao, kopi, dll.
Artinya
apa, di balik terik panas dan alam yang menantang, Tuhan pasti menyimpan
rahasia besar yang harus diungkap untuk mencapai kemakmuran di NTT. Dan itu
hanya bisa dicapai melalui riset dan penelitian. Di mana, tugas tersebut ada di
universitas termasuk Unwira ini, kata Viktor.
Melihat
persoalan di NTT yaitu tidak sinkronnya pendidikan dan kekayaan alam, Gubernur
Viktor menghendaki adanya desain pendidikan yang bisa berkorelasi dengan
kekayaan sumber daya alam yang dimiliki NTT.
Masalah
besar yang kita alami saat ini adalah pendidikan yang ada tidak berkorelasi
dengan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki. Kemaren ada salah satu
universitas, menyampaikan kalau ada program studinya (prodi) koki dan saya
senang. Saya berharap suatu saat ada prodi yang khusus mempelajari coklat,
jagung, Sophia, garam, energi baru terbarukan, Gula air dan jagung, harap
Gubernur.
Gubernur
pun bercerita bahwa setiap tahun, total belanja pakan ternak ayam dan babi,
untuk seluruh NTT adalah Rp 1,1 triliun. Uang sebanyak itu pasti keluar dari
NTT setiap tahun.
Untuk
itu kita perlu menyiapkan pabrik pakan ternak dengan suplai bahan pokoknya
adalah jagung dengan mengoptimalkan sumberdaya manusia dan lahan yang kita
miliki, kata Gubernur yang terkenal blak-blakan ini.
Soal
BUMNDes, Gubernur meminta agar dalam bekerjasama nanti, yang perlu diperhatikan
adalah pengembangan kelembagaan atau struktur BUMDes yang kuat dan profesional.
Dalam pengembangan BUMDes, harapan saya yaitu pengembangannya agar
berkolaborasi dengan koperasi, di mana saham mayoritasnya datang dari koperasi
dan sisanya adalah Pemerintah Desa. Dengan pendekatan serius berupa desain struktur
dan kerja nyata untuk melahirkan kelembagaan yang kuat, baik dari sisi
sumberdaya manusia dan optimalisasi jenis usaha sesuai dengan potensi yang ada
di desa tersebut, tegas Gubernur Viktor.
Hadir
dalam urun rembuk ini, selain Rektor Unwira, juga Ketua Yapenkar Kupang, Pater
Yulius Yansinto, SVD, MA, M.Si, Sekertaris Yapenkar, P. Egidius Taimenas, SVD,
S.Fil, M.Hum, para Wakil Rektor, Dekan dan Kaprodi serta Perwakilan Senat
Mahasiswa. Sedangkan dari Pemprov NTT, selain Gubernur NTT Viktor Bungtilu
Laiskodat, juga hadir para Staf Ahli Gubernur yaitu Dr. David Pandie, Tony
Jogo, Pius Rengka dan Anwar Pua Geno serta Kadis PMD Viktor Manek, Kadis
Pertanian Lucky Koli, Kabiro Pemerintahan Doris Rihi. (jdz-
mediantt.com)