21 June 2025 - Oleh

Kategori :

Gandeng BRIN, LPPM Sosialisasikan Program Akuisisi Pengetahuan Lokal


UNWIRA - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Widya Mandira, menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) program Akuisisi Pengetahuan Lokal yang digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Jumat (20/06/2025). Kegiatan ini menghadirkan Ismail Sulaiman, S.Sos., M.Si., Ahli Madya Penata Penerbitan Ilmiah BRIN, sebagai narasumber utama, dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa UNWIRA.

Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk menghimpun dan mendokumentasikan berbagai konten pengetahuan lokal dalam bentuk buku dan audiovisual. Tujuan dari program ini adalah menjadikan pengetahuan lokal sebagai sumber literasi terbuka yang dapat diakses masyarakat luas melalui kanal publik BRIN.

Baca Juga: Prodi Teknologi Pangan UNWIRA Dorong Inovasi dan Ketahanan Pangan Berbasis Loka

Adapun kategori karya yang dapat diajukan dalam program ini mencakup beberapa jenis buku, seperti buku ilmiah, buku ilmiah populer, buku ajar atau pegangan, buku pedoman atau panduan, serta buku cerita bergambar atau komik pengetahuan. Sementara untuk kategori audiovisual, mencakup film dokumenter, film animasi, film fiksi, dan dokumentasi kreatif inovatif.

Kepala LPPM UNWIRA, Dr. Maximus M. Taek, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret LPPM untuk mendorong Civitas Academica, khususnya dosen dan mahasiswa, agar lebih aktif berkontribusi dalam kerja-kerja akademik yang berdampak luas bagi masyarakat.

“Kita harus akui bahwa kita masih sangat kurang informasi tentang program-program seperti ini, padahal BRIN menyediakan banyak skema yang sangat relevan dan bisa kita akses,” terangnya.

Dr. Maximus mencontohkan salah satu karya yang mengangkat isu pelestarian budaya bangsa di wilayah perbatasan yang berhasil diterima dalam program ini, sebagai inspirasi bagi peserta. Ia menilai ada banyak potensi kearifan lokal yang dimiliki NTT yang dapat dikaji lebih lanjut.

Berangkat dari hal tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai mekanisme dan peluang program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN.

Ia secara khusus mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam program akuisisi ini, khususnya untuk kategori audiovisual yang dinilai relevan dengan kehidupan anak muda saat ini.

Baca Juga: Seminar Nasional Prodi BK: Wujudkan Profil Karier Siswa Melalui Pemetaan Minat dan Potensi

Sementara itu, Ismail Sulaiman, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa ruang lingkup keilmuan dalam program akuisisi ini tidak terbatas pada sosial humaniora.

“Yang terpenting bagi BRIN adalah kajian dalam karya tersebut berpotensi atau memiliki nuansa kearifan lokal,” ungkapnya.

Ismail menjelaskan bahwa seluruh karya yang masuk akan melalui proses penilaian dengan penekanan pada aspek legalitas, orisinalitas, dan kualitas karya. Ia juga menekankan bahwa hak kepemilikan atas karya yang diakusisi tetap berada di tangan penulis atau kreator.

(Penulis: Yosefa Saru)