24 August 2025 - Oleh
Kategori :
UNWIRA dan IKADA Kupang Bahas Budaya Sagi So’a dan Larik Riung dalam Talkshow Kebudayaan

UNWIRA – Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira bekerja sama dengan IKADA (Ikatan Keluarga Besar Ngada) Kupang, menyelenggarakan talkshow Kebudayaan dengan tema “Menenun Mozaik Budaya Sagi So’a dan Larik Riung di Era Kekinian”, bertempat di Aula St. Paulus, Gedung Rektorat UNWIRA, pada Sabtu (23/08/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama Fakultas Filsafat dengan IKADA yang telah dijalin sejak 2024 lalu.
Talkshow dipandu oleh Putra Riung Isidorus Lilijawa dan menghadirkan tiga pembicara, yakni Penggiat Budaya So'a, Drs. Bei Marselinus, M.M., Penggiat Budaya Riung, Drs. Cyrilus Sungga, dan Dosen Fakultas Filsafat UNWIRA, Dr. Drs. Yohanes Vianey Watu, M.Hum.
Ketua IKADA Kupang, Dr. Siprianus Radho Toly, dalam sambutannya menyampaikan bahwa talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian Pentas Budaya Sagi So’a dan Larik Riung yang akan digelar pada Sabtu (30/08/2025).
“Talkshow ini digelar untuk memberi pemahaman tentang budaya Sagi So’a dan Larik Riung. Publik selama ini lebih mengenal budaya Ngada melalui tarian Ja’i dan upacara Reba. Oleh karena itu, pada tahun 2025 ini kami menampilkan Sagi So’a dan Larik Riung agar masyarakat memahami bahwa budaya Ngada jauh lebih beragam,” tekannya.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini penting agar peserta maupun masyarakat umum dapat memahami esensi budaya Sagi So’a dan Larik Riung sebelum dipentaskan. “Kami berharap hasil pembahasan dalam talkshow ini dapat dibukukan dan diterbitkan oleh IKADA Kupang sebagai dokumentasi sekaligus referensi akademik,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Siprianus Radho Toly, juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
Baca Juga: Terima 8 Unit Tempat Sampah dari PT. Asuransi Jasa Raharja Putera, Ini Kata Rektor UNWIRA
Para pembicara memberikan penjelasan mendalam tentang filosofi dan praktik budaya Sagi So’a dan Larik Riung. Drs. Bei Marselinus, M.M., dalam paparannya, menjelaskan bahwa Sagi merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat yang diterima. Ungkapan syukur tersebut diwujudkan melalui tradisi tinju adat (berkelahi) yang diawali dan ditutup dengan ritual adat dengan tujuan untuk menyampaikan syukur sekaligus memohon perlindungan agar tanaman terhindar dari hama.
Sementara itu, Drs. Cyrilus Sungga, menguraikan bahwa Larik merupakan ritual memorial untuk mengenang Raka dan Ruat yang diyakini berpengaruh pada kesuburan dan ketahanan pangan yang dilaksanakan di kampung adat.
“Apabila Larik tidak dihadiri banyak orang dan tidak terjadi luka akibat cambukan, maka hasil panen biasanya minim. Sebaliknya, jika dihadiri banyak orang dan banyak darah yang bercucuran, panen akan melimpah. Hal ini merupakan fakta yang kerap terjadi di kalangan masyarakat Riung,” tegasnya.
Melengkapi pemaparan tersebut, Dr. Drs. Yohanes Vianey Watu, M.Hum., menyoroti aspek filosofis kedua tradisi ini. Ia menyimpulkan bahwa Sagi dan Larik merupakan warisan budaya yang sarat makna, terutama terkait nilai keberanian untuk bertarung dan bertahan dalam kehidupan masyarakat adat. (nm)