04 February 2026 - Oleh

Kategori :

Mahasiswa UNWIRA Raih Juara 2 Inovasi Digital Terbaik di Ajang Internasional IYIS Malaysia–Singapura


UNWIRA – Julian Barbara Lipat Mukin, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), kembali mengharumkan nama kampus di tingkat internasional. Julian berhasil meraih juara 2 video inovasi digital terbaik dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) Chapter Malaysia and Singapore, yang diselenggarakan pada 26–29 Januari 2026.

Kompetisi ini mengusung tema “Youth Digital Innovation: Pioneering Innovation for Tomorrow’s Leaders in Achieving Sustainable Development Goals (SDGs)”. Dalam ajang tersebut, Julian yang tergabung dalam tim beranggotakan 6 orang, mengangkat inovasi di bidang pengelolaan sampah berbasis digital sebagai solusi berkelanjutan untuk mendorong kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat.

Julian menjelaskan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan fasilitas, tetapi juga menyangkut kebiasaan dan kesadaran manusia.

“Banyak orang tahu itu penting, tapi belum terbiasa melakukannya. Oleh karena itu, kami memilih pendekatan inovasi digital agar edukasi tidak terasa menggurui, melainkan hadir sebagai pengalaman yang menarik,” ujarnya.

Baca Juga: Fakultas Filsafat UNWIRA Buka Semester Genap 2025/2026

Inovasi yang diusung berupa aplikasi terintegrasi dengan photobooth yang diberi nama Wasteback. Aplikasi ini bekerja menyerupai sistem bank sampah dengan mekanisme drop point. Melalui Wasteback, masyarakat dapat mengumpulkan poin dari aktivitas pengelolaan sampah, yang kemudian dapat ditukarkan dengan berbagai produk seperti totebag, boneka, dan voucher pembelian.

Dengan sistem tersebut, edukasi pemilahan sampah diharapkan menjadi lebih kreatif, partisipatif, dan berkelanjutan.

“Selama ini, kampanye tentang sampah sering berhenti di sosialisasi. Kami ingin menghadirkan solusi yang mendorong partisipasi aktif, membangun kebiasaan, dan menanamkan nilai peduli lingkungan sejak usia muda, bukan hanya sebatas memberi informasi,” jelas Julian.

Ia menambahkan bahwa photobooth Wasteback dirancang untuk ditempatkan di sekolah maupun area konsumsi publik yang menghasilkan banyak sampah.

Selain kompetisi, Julian juga memperoleh pengalaman akademik melalui kunjungan ke National University of Singapore (NUS) dan Universiti Malaya.

“Di NUS, saya melihat bagaimana budaya disiplin, sistem pembelajaran lecture dan tutorial, serta lingkungan kampus yang sangat mendukung pola pikir kritis dan inovatif. Sementara di Universiti Malaysia, saya belajar tentang suasana akademik yang kolaboratif, pemanfaatan fasilitas belajar seperti perpustakaan, dan budaya belajar yang mendorong mahasiswa untuk aktif,” tuturnya.

Pengalaman tersebut, menurut Julian, menjadi bekal berharga yang ingin ia adaptasikan dalam pengembangan inovasi dan talenta muda di Indonesia.

Lebih lanjut, Julian menilai keterlibatan dan peran UNWIRA dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa sudah baik. 

“Kampus tidak hanya mendorong pembelajaran di kelas, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengikuti lomba, program pengembangan diri, dan kegiatan di luar kampus yang membuka wawasan,” ungkapnya.

Baca Juga: Program Studi Ilmu Komunikasi UNWIRA Raih Akreditasi Unggul

Ia juga menegaskan bahwa dukungan dosen menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa untuk berani mencoba dan mengembangkan ide-ide inovatif.

“Ke depan, peran ini bisa terus diperkuat dengan semakin banyak ruang kolaborasi dan pendampingan agar ide mahasiswa dapat berdampak nyata,” pungkasnya.

Julian berharap mahasiswa UNWIRA ke depan tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta keberanian untuk mengambil peran sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. (ys/ms)