29 October 2025 - Oleh
Kategori :
Menjahit Luka, Menghidupkan Ingatan: Kolaborasi FISIP UNWIRA dan USD Bedah Buku Tentang Timor Leste

UNWIRA – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang bekerja sama dengan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta menggelar seminar reflektif bertajuk “Bedah Buku: Jejak-Jejak Ingatan dan Meraih Cahaya” di Aula St. Hendrikus, Gedung Rektorat UNWIRA. Kegiatan ini menghadirkan diskusi hangat tentang sejarah, kemanusiaan, dan memori kolektif Timor Leste, serta menandai penandatanganan kerja sama akademik antara UNWIRA dan USD.
Dua karya reflektif yang dibedah merupakan hasil pemikiran cendekiawan Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., yang mengajak pembaca menelusuri hubungan historis Indonesia–Timor Leste dari sisi kemanusiaan. Acara ini juga didukung oleh Centro Nacional Chega! (CNC! I.P) dan Forum Komunikasi Pejuang Timor Timur (FKPTT).
Dalam sambutan pembuka, P. Yoseph Riang, SVD., S.Fil., M.I.Kom., selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik FISIP UNWIRA, menyampaikan bahwa ingatan kolektif bukanlah beban, melainkan jembatan menuju masa depan yang beradab. “Perdamaian sejati tidak lahir dari lupa, melainkan dari ingatan yang dipulihkan, ditafsirkan, dan dibagikan dengan kasih,” ujarnya, menegaskan pentingnya riset sosial yang berpihak pada kemanusiaan.
Mewakili Pusat Studi Demokrasi dan Hak-Hak Asasi Manusia (PUSDEMA), Prof. Yapi Taum menekankan bahwa persoalan Timor Leste bukan sekadar isu geografis, tetapi juga persoalan persaudaraan. “Kerja sama formal antara UNWIRA dan USD menjadi simbol penguatan ikatan kekeluargaan di tanah Timor,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor UNWIRA, Pater Dr. Stefanus Lio S.DSW, MA, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak tumbuh di ruang hampa, tetapi hidup dalam perjumpaan manusia. “Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pengetahuan sejati lahir dari keterbukaan dan kemauan untuk saling belajar,” ungkapnya.
Baca Juga: FISIP UNWIRA Gandeng Universitas Teuku Umar Berbagi Strategi Menembus Jurnal Bereputasi
Dalam pemaparannya, Prof. Taum menjelaskan bahwa kedua bukunya memiliki tujuan yang sama yaitu membangun politik harapan bagi masa depan Timor Leste dan Indonesia. Buku pertama menelusuri sisi gelap sejarah dan pengalaman pahit yang menandai perjalanan bangsa Timor Leste, sementara buku kedua menghadirkan narasi ingatan kolektif lintas generasi dan negara. “Hanya ada satu peristiwa sejarah, tetapi ingatan itu berbeda-beda,” ujarnya, menekankan pentingnya melihat persoalan hak asasi manusia secara lebih dalam.
Diskusi ini turut menghadirkan sejumlah penanggap, antara lain Hugo Maria Fernandes (Direktur Eksekutif CNC! I.P), Agusto Da Costa dan Angelino Da Costa (FKPTT), serta Drs. Marianus Kleden, M.Si. dari UNWIRA. Hugo Fernandes menyoroti kompleksitas sejarah Timor Leste yang panjang di bawah kolonialisme dan trauma politik yang masih membekas. “Sejarah yang dimulai dengan tragedi tidak seharusnya berakhir sebagai lelucon,” tegasnya.
Sementara itu, Agusto Da Costa menilai buku tersebut belum cukup mengulas aspek psikologis dan proses deskolonisasi. Ia menegaskan bahwa masa lalu Timor Timur adalah masa kelam yang masih menyisakan banyak pertanyaan. Dari perspektif akademik, Drs. Marianus Kleden, M.Si. mengulas tiga dilema dalam penulisan sejarah antara histery dan history, antara membuka dan menutup luka, serta antara objektivitas dan empati. Ia menilai Prof. Taum berhasil menghadirkan sejarah sebagai pemulihan ingatan kolektif, bukan sekadar catatan penderitaan.
Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Eusabius Separera Niron, S.IP., M.IP., memberikan kritik tajam terhadap narasi harapan dalam buku tersebut. Menurutnya, cahaya dalam teks Prof. Taum lebih bersifat moralistik ketimbang menjadi manifesto politik pembebasan. Sementara itu, Angelino Da Costa menekankan bahwa makna sebuah buku sejarah sangat tergantung pada tujuannya. “Kalau menulis buku itu bisa mempertemukan kami sebagai upaya untuk mewujudkan perdamaian, berarti betul. Tetapi kalau tidak dapat mendamaikan dua orang yang bertikai, maka apalah artinya kita menulis buku,” ujarnya, seraya mengungkapkan kekhawatiran bahwa buku justru dapat membangkitkan kembali luka yang mulai terlupakan.
Baca Juga: Seminar Alumni Warnai Perayaan Dies Natalis ke-43 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
Menutup diskusi, Jovito Rego De Jesus Araujo dari CNC! I.P menyampaikan apresiasi atas ruang dialog yang tercipta. Ia menegaskan pentingnya pertemuan lintas perspektif dalam memahami sejarah. “Kita semua memiliki versi sejarah masing-masing. Ruang seperti ini adalah rahmat, tempat kita saling mengungkapkan pandangan tanpa saling membidik,” ungkapnya.
Seminar ini menjadi bukti bahwa dunia akademik dapat menjadi ruang penyembuhan, di mana memori, kebenaran, dan rekonsiliasi disulam bersama dalam semangat kemanusiaan. (jb/ms)