03 October 2025 - Oleh
Kategori :
UNWIRA Gelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI: Tanamkan Nilai Kebangsaan di Perguruan Tinggi

UNWIRA – Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi empat pilar MPR RI dengan tema “Implementasi Empat Pilar Kebangsaan sebagai Fondasi Etika dan Moral di Perguruan Tinggi”, pada Jumat (03/10/2025) di Aula St. Paulus, Gedung Rektorat UNWIRA.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ir. Abraham Liyanto, Ketua Badan Sosialisasi MPR RI dan Maria Goreti, S.Sos., M.Si., Anggota DPD RI Provinsi Kalimantan Barat, dan diikuti oleh Civitas Academica UNWIRA.
Baca Juga: Sambut Hari Sumpah Pemuda 2025, BEM FKIP Gelar Lomba Band dan Menulis Artikel
Dalam sambutannya, Rektor UNWIRA, P. Dr. Stefanus Lio, SVD., S.Fil., M.A., menyampaikan apresiasinya kepada kepada narasumber yang hadir untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai kebangsaan kepada mahasiswa.
“Pemahaman terhadap empat pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan fondasi utama dalam membangun karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda,” ungkapnya.
Rektor UNWIRA menegaskan bahwa mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan perlu menanamkan nilai-nilai kebangsaan agar mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Ia juga berharap agar kegiatan sosialisasi ini tidak hanya menambah wawasan mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat maupun dunia kerja.
Sementara itu, Ir. Abraham Liyanto menekankan bahwa empat pilar kebangsaan merupakan jati diri dan ciri khas bangsa Indonesia.
“Jadi cukup itulah Indonesia, itulah ciri khas kita. Kalau kita ibaratkan sebagai aset, itulah cara kita menunjukkan jati diri dengan ruang yang nyaman dan kita berada di satu rumah yang sama. Kita sepakat, cukup empat pilar itu saja kita sudah bisa mencintai negara kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia,” terang Liyanto.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa, Maria Francisca Suniboli dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, mengemukakan pertanyaan kritis mengenai relevansi masa reformasi dengan masih tingginya angka korupsi di Indonesia hingga saat ini.
“Apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka atau baru merdeka dari senjata saja? Dan apakah korupsi serta ketidakmerataan ini akan terus terjadi di tengah upaya menuju Indonesia Emas 2045?” tanyanya.
Menanggapi hal tersebut, Ir. Abraham Liyanto memberikan jawaban mendalam yang mengajak mahasiswa untuk memaknai kemerdekaan secara utuh.
“Indonesia memang sudah merdeka secara politik, tetapi perjuangan kita belum selesai. Tantangan saat ini adalah bagaimana mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dengan keadilan, kesejahteraan, dan moralitas. Korupsi serta ketimpangan bukan tanda belum merdeka, melainkan ujian untuk membuktikan kedewasaan bangsa,” jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan secara nyata.
“Tidak cukup hanya ikut kegiatan seperti ini, tetapi harus mempraktikkan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Liyanto juga menjelaskan bahwa kehadiran MPR RI dalam kegiatan seperti ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Pancasila dan kebangsaan agar generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu menyesatkan.
“Kalau kita sudah memahami nilai-nilai Empat Pilar ini, kita tidak akan mudah terpengaruh dengan ajakan-ajakan yang menyesatkan. Kita harus tahu betul apa itu Pancasila, kapan lahirnya, dan bagaimana mengamalkannya. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya hafal, tetapi mampu menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai pedoman hidup,” pungkasnya. (NM)