04 June 2026 - Oleh
Kategori :
Fakultas Filsafat UNWIRA Resmi Buka Festival Philosophia Sapere Aude Ke-5

UNWIRA - Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) resmi membuka Festival Philosophia Sapere Aude (PSA) yang kelima. Mengusung tema besar “Membangun Jembatan Dialog di Perbatasan Indonesia dan Timor Leste,” festival ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 4 hingga 6 Juni 2025.
Kemeriahan festival melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari program studi di lingkungan UNWIRA, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hingga beragam komunitas yang ada di Kota Kupang.
Rangkaian acara pembukaan diawali dengan parade drumband yang dibawakan oleh siswa-siswi SMPK St. Yoseph Naikoten Kupang. Parade ini mengiringi langkah para peserta yang berjalan beriringan dari titik kumpul di Lapangan Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui menuju lokasi utama acara di Aula St. Maria Immaculata UNWIRA.

Acara ini turut dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., Rektor UNWIRA, P. Dr. Stefanus Lio, SVD., S.Fil., MA., serta Wakil Dekan Fakultas Filsafat UNWIRA, Rm. Drs. Theodorus A. Silab, Pr. Lic. Theo. Puncak peresmian kegiatan ini ditandai secara simbolis melalui pemukulan gong yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTT.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Fakultas Filsafat, Romo Theodorus A. Silab, menekankan makna mendalam dari sebuah perbatasan. Menurutnya, perbatasan bukan sekadar garis pembagian wilayah administratif, melainkan ruang perjumpaan budaya, bahasa, dan persaudaraan. Festival PSA hadir sebagai wadah perjumpaan intelektual dan kultural, tidak hanya bagi akademisi dan mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat luas, guna merawat area perbatasan sebagai wilayah yang aman dan harmonis.
Senada dengan gagasan tersebut, Rektor UNWIRA, Pater Stefanus Lio, menyebut Festival PSA sebagai ruang refleksi yang kritis.
"Membangun dialog berarti menjembatani berbagai perbedaan yang seharusnya tidak dilihat sebagai akar konflik, melainkan sebagai sebuah kekayaan untuk mempererat persaudaraan," ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa perbatasan bukanlah wilayah pinggiran, melainkan kawasan strategis untuk merajut kemanusiaan. Mahasiswa pun dituntut untuk mengambil peran sebagai agen sosial dan agen kemanusiaan yang berani berpikir, berani berdialog, dan berani membangun persaudaraan yang inklusif.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, turut memberikan pandangan strategisnya. Ia menyoroti bahwa perbatasan menyimpan cerita-cerita masa lalu yang masih saling terhubung kuat hingga hari ini. Oleh karena itu, tema Festival PSA tahun ini dinilai sangat relevan karena memacu semua pihak untuk berani berpikir dan bergerak demi kebaikan Indonesia dan Timor Leste.
Ia juga menambahkan bahwa perbatasan harus dilihat sebagai potensi dan peluang besar bagi anak-anak NTT untuk membangun kerja sama bilateral yang kuat yang pada akhirnya dapat membuka jaringan hingga ke tingkat global dan menciptakan berbagai lapangan pekerjaan baru.
Rangkaian kegiatan PSA 5 ini telah dimulai sejak April dengan berbagai lomba, di antaranya adalah debat nasional, artikel ilmiah, paduan suara, tari kreasi, dan dramatisasi kitab suci. Festival Philosophia Sapere Aude ke-5 ini diharapkan dapat menjadi ajang diskursus yang bermakna bagi para peserta. Melalui kegiatan ini, Fakultas Filsafat UMWIRA berharap setiap elemen yang terlibat dapat belajar dan merumuskan cara terbaik dalam membangun dialog yang sehat di daerah perbatasan demi terwujudnya hubungan masyarakat yang jauh lebih baik di masa depan. (jf/ys/ms)