11 June 2026 - Oleh
Kategori :
Eksplorasi Pangan Lokal NTT, FST UNWIRA Hadirkan Pegiat Pangan dalam Kuliah Umum

UNWIRA – Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Widya Mandira mengadakan kuliah umum dengan tema “Eksplorasi Pangan Lokal NTT Sebagai Sumber Inovasi dan Ketahanan Pangan”, pada Kamis (11/06/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Aula St. Paulus UNWIRA dan melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Maria Stephanie B. Eng. (Hons.), M.Phil., pegiat pangan lokal, sebagai narasumber utama.
Kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa FST UNWIRA, perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, serta akademisi dari Universitas Andi Sudirman, serta beberapa perguruan tinggi lain di Kota Kupang.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Dekan FST, Lodowik Landi Pote, S.Si., M.Sc., yang menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat NTT yang semakin bergeser dari pangan lokal ke beras sebagai makanan pokok.
“Kita sudah cenderung hanya mengonsumsi beras ketimbang pangan lokal,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kurangnya perhatian terhadap pengolahan dan cara penyajian sehingga menurunkan minat konsumsi masyarakat.
“Padahal sebenarnya pangan-pangan tersebut memiliki nilai gizi tinggi,” tambahnya.
Lodowik berharap kuliah umum dapat menambah wawasan peserta serta mendorong inovasi pangan lokal untuk menjaga ketahanan pangan.

Menanggapi pentingnya inovasi dalam pengembangan pangan lokal, Stephanie menjelaskan bahwa ada 5 pilar utama dalam inovasi pangan kontekstual, yakni prioritaskan pangan lokal, pertahankan kearifan budaya setempat, gunakan teknologi tepat guna, perhatikan kebutuhan masyarakat, dan jaga kelestarian lingkungan.
Selain itu, ia menjelaskan dua prinsip yang dapat menjadi batasan dalam melakukan inovasi pangan. Prinsip pertama adalah tidak berusaha memperbaiki sesuatu yang belum rusak secara keseluruhan, tetapi cukup fokus pada bagian yang perlu ditingkatkan, direvisi, atau dimodernisasi.
Prinsip yang kedua adalah tidak harus menciptakan sesuatu yang baru hanya karena memiliki kemampuan untuk melakukannya.
“Teknologi yang canggih belum tentu menjadi solusi yang relevan untuk tantangan yang dihadapi di NTT,” tambahnya.
Stephanie menjelaskan beberapa upaya untuk mempertahankan atau melestarikan pengetahuan pangan lokasi. Salah satunya pendataan pangan lokal berdasarkan lokasi. Stephanie menyarankan untuk memulai dari sumber terdekat agar memudahkan pendataan. Selanjutnya, ia juga menyebut untuk mendata berdasarkan fungsi kuliner, kandungan gizi, dan pengarsipan resep-resep tradisional.
“Kita bisa melakukan wawancara lalu kita tuliskan informasi-informasi yang kita kumpulkan,” ujar Stephanie.
Ia mencontohkan beberapa bentuk pelestarian pengetahuan pangan lokal, misalnya melalui katalog atau ensiklopedia, website, atau pembuatan konten-konten media sosial. Menurutnya cara-cara ini dapat dimanfaatkan oleh generasi muda yang saat ini lebih banyak mendokumentasikan hal-hal secara digital.
Kuliah umum ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya pangan lokal sekaligus menginspirasi lahirnya inovasi-inovasi yang mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. (ys/ms)